Rahasia Kuliner Kremlin

Para kaum elit Rusia selalu mengonsumsi makanan mewah, namun sebenarnya dapur Kremlin menghidangkan menu yang tak jauh berbeda dengan menu rakyat Rusia pada umumnya. Foto: ITAR-TASS

Para kaum elit Rusia selalu mengonsumsi makanan mewah, namun sebenarnya dapur Kremlin menghidangkan menu yang tak jauh berbeda dengan menu rakyat Rusia pada umumnya. Foto: ITAR-TASS

Mereka yang pernah mengikuti gala makan malam di Rusia pada masa komunis bisa dikatakan telah merasakan "komarinyye brovi v smetane" (alis mata nyamuk dalam krim asam), itulah kiasan hiperbola dalam bahasa Rusia. Para kaum elit Rusia selalu mengonsumsi makanan mewah, namun sebenarnya dapur Kremlin menghidangkan menu yang tak jauh berbeda dengan menu rakyat Rusia pada umumnya.

Bir Kaum Komunis

Lenin, tokoh komunis paling terkenal sepanjang sejarah, bersikap acuh tak acuh terhadap menu makanan. Satu-satunya gairah kuliner yang dimiliki Lenin adalah bir berkualitas. Tokoh revolusi ternama ini lahir dan besar di Volga, tempat produksi bir Zhigulevskoye yang terkenal. Bir tersebut masih diproduksi dan didistribusikan ke seluruh Rusia hingga saat ini. Lenin juga pernah tinggal di Jerman dalam waktu cukup lama, sehingga ia cukup ahli dalam memahami citarasa bir.

Ikan Stalin

Stalin yang menggantikan Lenin sebagai pemimpin proletariat dunia, sangat berbeda berbeda dengan para pendahulunya. Ia memang bukan seorang gourmand (pencinta makanan), tapi perlu diingat bahwa ia berasal dari Georgia, dan di Georgia terdapat kultus (pemujaan) terhadap makanan. Makanan tradisional Georgia selalu mengutamakan kesegaran dan kualitas tinggi. Ketika itu belum ada gaya hidup konsumsi makanan sehat.

Selain itu, Stalin pernah diasingkan ke Siberia saat aktif dalam kegiatan revolusi ilegal. Selama pengasingan, ia mencicipi banyak kuliner klasik ala Rusia dan jatuh cinta terhadap citarasa masakan ikan Rusia. Di sungai-sungai dan danau Siberia terdapat puluhan jenis salmon dengan daging lezat yang tidak diketahui oleh warga Eropa pada waktu itu. Salah satu jenis salmon tersebut adalah ikan nelma yang sering disebut “sang raja ikan di meja makan Rusia”. Ikan nelma merupakan bahan makanan yang paling dicari di wilayah Rusia bagian Eropa dan harganya mahal. Sebagai makanan favorit Stalin, ikan nelma segar diterbangkan khusus menggunakan pesawat hanya untuk dihidangkan di meja makan Kremlin.

Stalin juga menyukai ikan Ribets (ikan vimba bream) dan ikan Shemaya, sejenis ikan bersirip kipas dari genus Chalcalburnus. Kedua ikan berukuran kecil dan berdaging lembut tersebut hidup di sungai-sungai bagian selatan Rusia dan Georgia. Kini kedua ikan tersebut tak dapat lagi dicicipi karena sudah hampir punah.

Perbedaan lain antara menu di meja makan Stalin dan warga biasa adalah mutu makanan. Buah-buahan seperti ceri segar dikirim khusus menggunakan pesawat terbang untuk Stalin, agar ia dapat menikmati buah tanpa perlu menunggu musim tertentu. Pada zaman kekaisaran Rusia hal tersebut terkesan sangat mewah.

Jamuan Rahasia Tanpa Pelayan

Ada dua ciri khas jamuan Stalin. Pertama, pelayan tidak melayani tamu secara individu, melainkan menghidangkan  makanan pembuka, makanan utama, camilan, makanan penutup ke meja makan lalu pergi. Di meja makan tersebut Stalin dan tamunya biasa mendiskusikan urusan pemerintahan dan tentunya tidak diperkenankan adanya pendengar tak diundang dalam situasi tersebut. Bahkan karena itu, setiap pejabat negara maupun pimpinan militer harus menuangkan supnya sendiri dan duduk di tempat yang kosong tanpa bantuan pelayan. Ciri khas kedua adalah puluhan jenis vodka dan cognac disediakan di atas meja, termasuk anggur dari distrik Kizlyarsky (sekarang bagian dari Republik Dagestan, Rusia) yang pernah dikirim Stalin pada Churcill. Pemimpin Uni Soviet itu sendiri lebih menyukai anggur (wine) Tsinandali dan Teliani, minuman anggur putih dan merah dari wilayah Kakheti di bagian Timur Georgia, yang diolah dengan teknologi berbeda dari anggur olahan Eropa. Stalin juga selalu  berusaha membuat tamu dan bawahannya mabuk berat, itulah budaya penerimaan tamu bagian Timur Eropa yang cenderung jahat. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk melepas kecanggungan dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.

Rakyat Jelata Tak Makan Pisang

Satu-satunya kelezatan Kremlin yang tidak dapat dicicipi oleh warga sipil Uni Soviet selama bertahun-tahun adalah pisang. Tak ada yang tahu di mana Stalin mencicipi pisang untuk pertama kalinya, yang jelas ia sangat suka dengan buah pisang. Buah tersebut selalu ada di atas mejanya dan disediakan oleh tim khusus. Setelah peperangan usai, barulah sang diktaktor memutuskan bahwa warga Soviet pun berhak mencicipi pisang. Setelah itu buah pisang dapat ditemui di kota-kota besar seperti Moskow, Leningrad (sekarang Saint Petersburg), dan Kiev.

Hidangan–hidangan di atas masih disajikan hingga sekarang, meski citarasa dapur Kremlin bergeser dari citarasa daerah Kaukasus ke citarasa Prancis. Namun, informasi terpercaya mengenai selera makanan penghuni Kremlin yang sekarang akan menjadi teka-teki bagi sejarawan-sejarawan di masa mendatang, sebab Kremlin tetap menjadi sebuah institusi tertutup bagi publik.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.