Perempuan Berjanggut Hebohkan Dunia Maya Rusia

Juara Eurovision Conchita Wurst menarik banyak perhatian bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena suaranya. Foto: Vladimir Astapkovitsch/RIA Novosti

Juara Eurovision Conchita Wurst menarik banyak perhatian bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena suaranya. Foto: Vladimir Astapkovitsch/RIA Novosti

Kemenangan Conchita Wurst pada kompetisi Eurovision memicu kontroversi di media Rusia. Masyarakat yang konservatif secara terbuka mengecam perempuan berjanggut ini. Meski kemenangan Wurst mendapat kritikan tajam dari beberapa pejabat Rusia, dunia maya Rusia menyambut kemenangan Conchita Wurst dengan dukungan yang mengejutkan.

Tidak jelas apa sebenarnya yang dikritik para pejabat Rusia, orientasi seksual sang penyanyi, atau gambaran seorang perempuan dengan janggut. Jika kehebohan ini adalah tentang orientasi seksualnya, t.A.t.U., duo pop asal Rusia yang terkenal di seluruh dunia sudah menampilkan citra lesbian sejak lima belas tahun yang lalu. Sementara jika masalahnya adalah seorang perempuan dengan janggut, sirkus Rusia sudah menampilkan mereka sejak abad ke-20. Di Portugal bahkan ada Martir Agung Perempuan Katolik yang memiliki janggut.

Padahal, peran transgender sangat disukai di atas panggung Rusia. Verka Serduchka, yang sangat populer di Rusia, adalah artis lintas-busana Andrei Danilko yang mewakili Ukraina di Eurovision 2007 dan meraih posisi kedua di kompetisi tersebut dan meraih beberapa penghargaan lain. Selain itu, sepuluh tahun yang lalu vokalis pria berjanggut dari grup Umaturman pernah menyanyikan lagu dalam busana perempuan dalam komedi populer Rusia, Hari Pemilu. "You're a Transvestite, Masha,” bunyi lagu tersebut. Ketika itu tak ada satupun politikus yang menyampaikan kritik keras.

Banyakblogger Rusia yang menganggap penampilan perempuan berjanggut di atas panggung sebagai pertunjukan, semacam Queen dengan Freddy Mercury yang bernyanyi mengenakan gaun. “Ini adalah sebuah pertunjukan yang menarik. Penampilan dalam musik pop memang selalalu memberi kejutan. Aneh sekali politisi Rusia menilai ini sebagai pelanggaran,” tulis Irina Krashennikova dalam blognya.

Conchita Wurst - Rise Like a Phoenix. Sumber: YouTube

Hal senada disampaikan sen_semilia dalam blognya, “Saya tidak melihat hal yang aneh. Ini adalah sebuah tontonan yang menarik. Saya menyukai pemenangnya, suara, dan lagu yang ia bawakan sungguh luar biasa!”. Pendapat tersebut mewakili suara banyak orang. “Ya Tuhan, kabar baik! Seorang pria bergaun tampil di atas panggung. Mungkin sebelumnya kita tak mengira bisa melihat hal seperti ini,” tulis mona_cenia.

Den04 menulis, “Pembunuhan, pemerkosaan, dan promosi narkoba ditampilkan di layar kaca setiap hari. Anak-anak bahkan bermain video game yang menampilkan banyak kekerasan. Mengapa para orangtua tidak marah akan hal-hal tersebut? Sementara ketika seniman berbakat unjuk kebolehan menyanyi di Eurovision malah menuai histeria. Saya tidak mengerti masyarakat yang bebal ini. Binaragawati juga memiliki janggut dan kumis, tetapi jika Anda memberitahu mereka bahwa mereka tidak bermoral, Anda akan bangun di rumah sakit dengan gegar otak dan bisa mendiskusikan masalah ‘moral’ dengan tetangga Anda di ruang rumah sakit.”

Sekalipun demikian, banyak blogger yang tidak menonton Eurovision karena mereka merasa acara ini terlalu dangkal, sementara banyak pula yang sepenuhnya tak peduli terhadap brewok pada wajah seorang perempuan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.