Tantangan Hidup di Rusia

Perbedaan budaya, kondisi alam, bahkan bahasa bisa menyulitkan Anda jika tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Perbedaan budaya, kondisi alam, bahkan bahasa bisa menyulitkan Anda jika tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Menjadi mahasiswa di negeri orang tentu memiliki tantangan tersendiri. Perbedaan budaya, kondisi alam, bahkan bahasa bisa menyulitkan Anda jika tak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Menyambung informasi mengenai sistem pendidikan di Rusia dan bagaimana cara untuk bisa sekolah di Rusia, kali ini RBTH akan menceritakan kesulitan apa saja yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Rusia. Informasi ini tentu berguna bagi Anda yang hendak kuliah ke Rusia agar bisa mengantisipasi kesulitan-kesulitan tersebut.

Kesulitan pertama adalah cuaca dingin. Cuaca dingin bukan hal yang umum bagi orang Indonesia. Indonesia adalah negara dua musim yang tidak mengalami musim dingin dan hanya sedikit orang Indonesia yang pernah merasakan salju, itu pun pasti di negeri orang. Sementara Rusia sebagai negara empat musim memiliki suhu yang cukup ekstrem di musim dingin.

Wilayah Rusia yang sangat luas membuat suhu udara di Rusia cukup bervariasi. Di daerah Yakutia misalnya, suhu musim dingin bisa mencapai −65°C. Sementara di Moskow, suhu musim dingin terendah dalam sejarah ialah −30°C. “Namun, secara perlahan akan terbiasa dengan cuaca tersebut dan bahkan kami mulai menyukainya,” kata Adri Sinaga, mahasiswa magister di Peoples’ Friendship University of Rusia (RUDN).

Kesulitan kedua adalah pembawaan orang Rusia yang (dianggap) kurang bersahabat pada awal pertemuan. Sebagai contoh, saat berjalan atau berbicara dengan orang yang baru dikenal, orang Rusia tidak murah senyum dan selalu terlihat muram. “Tetapi jika sudah dekat dan akrab, mereka bisa menganggap kita seperti saudara kandung sendiri,” kata Aries, mahasiswa doktorantura di RUDN.

Berdasarkan cerita dari narasumber, biasanya masalah komunikasi dengan orang Rusia hanya terjadi pada masa awal di universitas baru. Kurnia, mahasiswa Moscow State University of Food Production (MGUPP), mengaku merasa kesulitan menemukan teman ketika baru pindah dari Tver ke Moskow dan masuk ke MGUPP.

“Kita juga perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Masalahnya 90 persen mahasiswa berasal dari Rusia, sedangkan mahasiswa asing baru mulai berdatangan ke kampus kami di tahun 2008,” tutur Kurnia. Menurut Kurnia, orang Rusia memang sangat berhati-hati berhubungan dengan orang asing karena 15 tahun lalu sangat jarang orang Rusia yang dapat pergi ke luar negeri. Namun, saat ini telah terjadi perubahan yang signifikan. Orang Rusia mulai bepergian ke luar negeri dan menjadi lebih terbuka.

“Selama saya di Rusia, saya mengalaminya sendiri. Sekarang saya punya teman akrab yang selalu membantu saya dalam proses belajar. Kami sering jalan-jalan bersama,” kata Kurnia.

Selain itu, kesulitan selanjutnya adalah terkait bahasa. Pada saat datang ke Rusia, orang Indonesia biasanya belum bisa bahasa Rusia atau mengetahui bahasa Rusia tingkat dasar. Adri mengaku pada masa awal ia merasa sangat dibantu oleh pengajar bahasa Rusia di universitas.

“Mereka benar-benar pengertian dan sabar terhadap mahasiswa asing. Mereka selalu mencoba membantu dalam segala hal. Mereka juga tertarik dengan Indonesia dan itu sangat menyenangkan,” kata Adri. Di Moskow dan beberapa kota Rusia lain terdapat kelompok belajar bahasa Rusia bagi orang asing. Dalam kelompok tersebut orang berkumpul untuk belajar bahasa Rusia bersama-sama. 

Setelah tingkat penguasaan bahasa Rusia menjadi lebih baik, para mahasiswa mengaku lebih mudah mendapatkan teman. “Hal itu terjadi karena kami lebih percaya diri dan tahu bahwa apa yang kami sampaikan dapat dimengerti. Sekarag saya tidak kesulitan bila ingin berkenalan dengan orang Rusia,” kata Aries.

Mencari teman bisa pula dilakukan secara online, contohnya melalui situs couchsurfing.org. Kurnia bercerita berkat situs tersebut ia menemukan banyak teman baru. “Sekarang saya memiliki kenalan akrab di beberapa wilayah Rusia dan saya sering datang bertamu ke rumah mereka,” kata Kurnia. 

Selain membangun pertemanan dengan orang Rusia, warga Indonesia juga aktif berteman satu sama lain. Banyak kegiatan yang dilakukan bersama seperti berjalan-jalan, merayakan pesta, atau sekedar bercengkrama di asrama.

Selain itu, Kedutaan Indonesia di Moskow juga sering membuat kegiatan agar warga Indonesia bisa berkenalan satu sama lain dan bisa pula bergaul dengan orang Rusia. Hal tersebut membuat banyak orang Rusia yang mulai tertarik dengan Indonesia dan bahasa Indonesia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.