Sistem Pendidikan Rusia Ternyata Mirip Indonesia

Sejak 2011 sistem pendidikan di Rusia berubah ke sistem pendidikan Bologna, sistem pendidikan yang umum digunakan di Eropa.

Sejak 2011 sistem pendidikan di Rusia berubah ke sistem pendidikan Bologna, sistem pendidikan yang umum digunakan di Eropa.

Apakah Anda tertarik sekolah di Rusia? Jika iya, simak ulasan RBTH kali ini yang akan menceritakan bagaimana sistem pendidikan di Rusia, yang ternyata cukup mirip dengan sistem pendidikan di Indonesia.

 

Rusia membuka kesempatan bagi orang asing untuk mengenyam pendidikan di negara mereka. Program studi yang bisa diambil oleh orang dari luar Rusia cukup beragam, mulai dari tingkat menengah, kejuruan, perguruan tinggi, bahkan kursus bahasa.

Beberapa tahun belakangan, sistem pendidikan di Rusia mengalami perubahan yang signifikan. Dulu, Rusia masih menggunakan sistem pendidikan Uni Soviet, yakni sistem program spesialis. Program tersebut mencakup pendidikan dasar sebagai mahasiswa lalu dilanjutkan dengan pendidikan sesuai spesialisasi yang dipilih.

Pendidikan tersebut berlangsung selama lima tahun untuk kuliah regular dan enam tahun untuk kuliah sistem terbuka dan jarak jauh. Setelah mendapat ijazah spesialis, mahasiswa dapat melanjutkan jenjang pendidikannya ke program aspirantura dengan durasi tiga tahun untuk kuliah regular dan empat tahun untuk sistem terbuka. Setelah aspirantura, ia bisa melanjutkan ke program doktorantura yang berlangsung selama tiga tahun.

Namun, pada 2011 sistem pendidikan di Rusia berubah ke sistem pendidikan Bologna, sistem pendidikan yang umum digunakan di Eropa. Program spesialis hanya dilaksanakan di beberapa lembaga pendidikan saja.

Sistem baru tersebut terdiri dari program sarjana yang dapat diselesaikan dalam waktu empat tahun, lalu dilanjutkan program magister dengan durasi dua tahun. Kedua program ini sama dengan program S1 dan S2 di Indonesia. Tujuan utama perubahan sistem pendidikan tersebut adalah untuk menyatukan sistem penilaian dengan negara lain.

Sistem baru ini tentu lebih fleksibel dibandingkan sistem program spesialis. Sebagai contoh, bila seorang mahasiswa mendapatkan ijazah S1 di satu bidang dan selanjutnya ingin mengenyam pendidikan di bidang lain, ia dapat mengikuti program magister untuk bidang pendidikan yang berbeda.

Salah seorang mahasiswa magister di Peoples’ Friendship University of Rusia (RUDN), Adri Sinaga, mengatakan sistem pendidikan Indonesia dan Rusia bisa dikatakan serupa, tetapi memiliki perbedaan dalam hal sistem penilaian. Di Rusia, sistem penilaian terdiri dari zacyot (tes tanpa ujian) dan ekzamen (ujian). Zacyot dan ekzamen menjadi dasar pemberian nilai akhir berdasarkan standar khusus dengan range nilai A hingga F. Selain itu, di Rusia banyak ujian yang dilaksanakan secara lisan, tidak seperti di Indonesia yang semua ujiannya dilakukan secara tertulis. Untuk program magister, sistem penilaiannya bisa dikatakan sangat mirip yakni berdasarkan presentasi, makalah dan diskusi.

Jika hendak kuliah di Rusia, mahasiswa yang berasal dari luar Rusia wajib mengikuti program pelatihan bahasa Rusia selama satu tahun. Kurnia, salah seorang mahasiswa asal Indonesia menceritakan pengalamannya saat mengikuti kursus bahasa tersebut. “Selama dua bulan pertama kami belajar bahasa Rusia setiap hari, dari jam 9 pagi hingga jam 3 siang, tanpa istirahat. Lalu ditambah lagi mata pelajaran lainnya. Saya belajar kimia, fisika, matematika karena saya mengambil jurusan di bidang teknik” tutur Kurnia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.