Menyambut Musim Perayaan: Tahun Baru dan Natal Ortodoks

Ded Moroz (Kakek Salju) dan cucu tercintanya Shegurochka (Gadis Salju) adalah karakter utama dari legenda musim dingin Rusia.

Ded Moroz (Kakek Salju) dan cucu tercintanya Shegurochka (Gadis Salju) adalah karakter utama dari legenda musim dingin Rusia.

TASS
Sekitar 300 tahun yang lalu, Peter yang Agung kembali dari perjalanannya ke Eropa dan membawa pohon Natal bersamanya. Pada tahun 1917, kaum Bolshevik yang mulai berkuasa mengubah tradisi tersebut. Perayaan Natal dilarang, tapi sebagai gantinya, orang-orang boleh merayakan Tahun Baru. Ketika rezim Soviet runtuh, perayaan Tahun Baru telanjur melekat dan tetap menjadi perayaan yang paling populer dan disenangi di Rusia.

Dalam beberapa hari pertama bulan Desember, kota Moskow dihias semeriah mungkin untuk menyambut musim perayaan dengan pohon-pohon dan lampu-lampu Natal. Musim ini berlangsung sampai awal Januari karena sebagian besar orang Rusia merayakan hari Natal pada tanggal 7 Januari. Pada tanggal ini, hiasan-hiasan Natal tentu telah dikembalikan dan disimpan rapi di dalam kotaknya di sebagian besar rumah di negara-negara Barat.

Di Moskow, perayaan dimulai pada 24 Desember, yaitu ketika Ded Moroz (Kakek Salju), sesosok Sinterklas Rusia yang legendaris, tiba di Moskow dengan cucunya Snegurochka (Gadis Salju), dari kediaman resmi mereka di kota tua Rusia Veliky Ustyug, 95 km sebelah utara Moskow. Mereka adalah tokoh utama dari perayaan musim dingin Rusia.

Menyertai tradisi ini, kotak-kotak pos khusus muncul di taman-taman Moskow pada bulan Desember sehingga anak-anak dapat mengirim surat kepada Ded Moroz. Jika surat-surat itu mencantumkan alamat pengirimnya, mereka akan menerima balasan dari Kakek Salju.

Seperti Sinterklas, Ded Moroz telah lama menjadi bagian dari tradisi ini. Ia membawa hadiah kepada anak-anak di seluruh negeri. Namun di Rusia, ia melakukannya bukan pada malam Natal, melainkan pada malam Tahun Baru.

Asal-usul Pohon Tahun Baru

Sekitar 300 tahun yang lalu, Peter yang Agung kembali dari perjalanannya ke Eropa dan membawa pohon Natal bersamanya. Beberapa tradisi lain yang terkait dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, seperti memberikan hadiah, diadopsi pada saat yang sama. Selama dua abad, Natal dan Tahun Baru dirayakan dengan cara yang sama seperti di negara-negara Eropa lain. Namun, situasi ini menjadi rumit setelah Revolusi Oktober.

Kaum Bolshevik, yang mulai berkuasa pada tahun 1917, mengubah tradisi tersebut. Rezim ateis ini melarang orang merayakan kelahiran Yesus Kristus secara terbuka dan bahkan melarang menghias pohon cemara. Para penganut yang menyembunyikan ketaatan mereka pada Gereja Ortodoks harus merayakan Natal secara diam-diam.

Namun, beberapa tahun kemudian para petinggi partai menyadari bahwa negara tidak dapat berjalan tanpa perayaan musim dingin utamanya. Mereka memutuskan untuk mengizinkan rakyat membuat perayaan, tetapi pada Tahun Baru — hari yang tidak berhubungan dengan agama Kristen — bukan pada hari Natal. Namun demikian, mereka memang membolehkan beberapa tradisi yang berhubungan dengan Natal, seperti menghias pohon cemara dan saling memberikan hadiah, untuk dilakukan pada hari Tahun Baru. Ded Moroz, karakter pagan dari cerita rakyat Rusia, diundang untuk menghadiri perayaan Tahun Baru.

Perayaan resmi pertama Tahun Baru Soviet diadakan pada tahun 1937. Tahun itu, Ded Moroz muncul dalam kehidupan orang-orang Soviet sebagai pahlawan utama dari perayaan Tahun Baru dan sebagai tokoh yang menaruh hadiah-hadiah di bawah pohon Tahun Baru.

Ketika rezim Soviet runtuh lebih dari 50 tahun kemudian, perayaan Tahun Baru telanjur melekat dan, sampai hari ini, tetap menjadi perayaan yang paling populer dan disenangi di Rusia.

Pada malam Tahun Baru, para keluarga akan berkumpul di meja yang dihias meriah dan tepat setelah jam menujukkan tengah malam, orang-orang dewasa akan bersulang sambil meminum sampanye dan kemudian bertukar hadiah yang sebelumnya telah disembunyikan di bawah pohon Tahun Baru oleh Ded Moroz.

Bentrokan Kalender

Meski Natal telah meraih kembali popularitasnya sejak berakhirnya era Soviet, tapi hari raya ini belum benar-benar menggantikan tradisi perayaan Tahun Baru. Pada 1918, Dewan Komisar Rakyat memutuskan bahwa kalender Gregorian (yang digunakan di seluruh Eropa pada saat itu) akan menggantikan kalender Julian. Peristiwa ini menyebabkan pergeseran 13 hari pada penanggalan.

Namun, Gereja Ortodoks Rusia tetap setia pada kalender Julian, yang berarti bahwa — menurut kalender Gregorian — mereka merayakan malam Natal pada tanggal 6 Januari dan hari Natal pada tanggal 7 Januari. Sebaliknya, umat Katolik mengadopsi kalender Gregorian dan merayakan Natal pada bulan Desember.

Tanggal 7 Januari secara resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional pada tahun 1991. Sejak tahun 2005, Rusia telah menikmati liburan Natal yang panjang — dari Tahun Baru sampai tanggal 10 Januari.

Puasa Sebelum Pesta

Perayaan musim dingin Kristen dan sekuler melengkapi satu sama lain. Perayaan ini menciptakan suasana yang fantastis di jalanan kota-kota Rusia dan di dalam hati baik para penganut Ortodoks maupun warga non-Ortodoks.

Satu-satunya masalah kecil dengan merayakan hari Natal setelah hari Tahun Baru adalah bahwa semakin banyak pemeluk Ortodoks mempertahankan puasa nativity(kelahiran Yesus) selama 40 hari sebelum Natal, yaitu ketika orang-orang dilarang mengonsumsi produk susu dan daging, sedangkan ikan diperbolehkan hanya pada tanggal-tanggal tertentu. Namun, tradisi yang berat ini tidak bisa merusak perayaan Tahun Baru yang amat dicintai para pemeluknya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.