Masih Kazan, tapi Sudah Mendekati Cannes

Festival Film Kazan dijadikan setingkat dengan Festival Film Berlin. Sumber: Press Photo.

Festival Film Kazan dijadikan setingkat dengan Festival Film Berlin. Sumber: Press Photo.

Festival Film Muslim ke-IX yang diselenggarakan di kota Kazan setara dengan Festival Film di San Sebastian dan Berlin.

Festival Film Kazan dijadikan setingkat dengan Festival Film Berlin oleh sutradara Rusia Karen Shakhnazarov, yang juga merupakan pemimpin juri pada acara tersebut. Program festival ini sungguh dipenuhi oleh karya-karya bermutu tinggi dari Rusia, Iran, Suriah, Turki, Arab Saudi, Perancis, Jerman, Italia, serta negara-negara Timur dan Eropa lainnya, di mana terdapat atau didominasi oleh masyarakat muslim.

Dari 50 film yang masuk dalam program utama, dewan juri yang dipimpin oleh Shakhnazarov memilih 10 film terbaik. Tetapi hadiah utamanya, sebuah patung emas yang menggambarkan menara Ratu Tatar Syuyumbeki (menara legendaris yang terletak di Kremlin Kazan), dimenangi oleh film berjudul “Lingkaran” yang disutradarai Srdjan Golubovich dari Serbia. Film “Lingkaran” ini menceritakan mengenai perang antaragama dan usaha untuk menemukan jalan damai di tengah-tengah kekacauan dan pertumpahan darah perang saudara.

Trailer film "Lingkaran". Sumber: channel Vertigo Emotion Film di Youtube.

Penghargaan untuk sutradara terbaik diterima oleh Hale Lotfi dari Mesir untuk karyanya “Hari Baru. Harapan Baru”.

Teaser film "Hari Baru. Harapan Baru". Sumber: channel Mahmoud Lotfy di Youtube.

Penghargaan untuk skenario terbaik diterima oleh Marjan Ashrafizade dan Ali Asghari dari Iran untuk film “Surat-surat di Bawah Hujan”. Film pendek terbaik adalah film dari Kazakhstan berjudul “Bapak”.

Rusia hanya memenangi satu penghargaan. Patung emas diterima oleh Oleg Lukichev untuk sinematografi terbaik dalam film Maxim Panfilov “Ivan, putra Amir”. Namun, di samping penghargaan utama, film-film Rusia diberi anugerah khusus. Hadiah dari Presiden Tatarstan untuk “humanisme dalam seni perfilman” diterima oleh sutradara Maxim Shvachko untuk film dokumenter “Akhir Permainan”, yang syutingnya dilakukan di Tatarstan. Satu lagi hadiah khusus dari “Rossotrudnichestvo” diberikan kepada “Chippendale” karya Kamilla Safinaya, yang merekam film pendek mengenai seorang pemilik toko antik yang pergi ke kota Tmutarakan di Tatarstan untuk mencari sebuah lemari antik langka.

Di antara film dokumenter panjang asing, penghargaan utama dimenangi oleh film “Generasi Kunduz - Perang Asing” karya Martin Gerner dari Jerman. Penghargaan yang sama pada kategori film pendek didapat oleh film “Pulau yang Meleleh” karya Fariz Ahmetov dari Azerbaijan. Film animasi terbaik pada festival ini adalah film Iran “Desa Masuleh” karya Golamrezama (Bahram) Azimi, mengenai hubungan romantis antara dua warga lansia desa Masuleh di Iran yang diamati oleh pasangan muda yang baru datang ke sana.

Namun, festival tidak berjalan tanpa skandal. Menurut ketua komite seleksi Sergey Lavrentiev , yang memimpin publikasi online dari Kazan “Bisnis Online”, ia terkejut saat mengetahui bahwa film mengenai deportasi bangsa Tatar Krimea pada tahun 1944 telah dihapus dari program kompetisi utama. Awalnya diperkirakan karya sutradara dari Tatar Krimea Ahtem Seytablaev yang berjudul “Haytarma” (“Kembali”) akan membuka festival itu. Pada konferensi pers penutupan, ketua komite seleksi menduga bahwa hal itu dilakukan “oleh permintaan dari Kementerian Luar Negeri Rusia”. “Mungkin hal tersebut lebih baik. Jika “Haytarma” dimasukkan ke dalam kontes, mungkin saja film itu tidak bisa mendapatkan hadiah utama. Dalam kontes tersebut terdapat film-film yang lebih unggul. Kalau kemudian “Haytarma” tidak menang, orang-orang dapat berpikir bahwa keputusan itu diambil karena pengaruh politik. Film ini telah membuat gempar, penonton sampai membludak ke dalam dua ruangan,” papar Sergey Lavrentiev.

Menurut pengakuan salah satu anggota komite, Ketua Dewan Ulama Administrasi Spiritual Muslim Tatarstan, Rustam Batrov, melalui acara festival semacam ini Kazan memperkokoh statusnya sebagai ibu kota Muslim Rusia. “Hal yang penting dari festival ini adalah bahwa Islam ditampilkan sebagai bagian dari budaya kita, bukan hanya sebagai agama yang hanya berlaku untuk penganutnya saja. Festival ini membantu semua orang, terlepas dari keyakinan agama mereka, untuk melihat keindahan Islam dan nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi Islam. Biasanya, saat festival berakhir, saya meminta film-film tersebut dalam bentuk disk supaya saya bisa menontonnya dengan tenang. Film-film ini tidak dapat ditonton di layar lebar atau di TV karena merupakan film-film khusus, film “underground”,” jelasnya.

Menurut sutradara Shakhnazarov, Festival Film Muslim Kazan setara dengan Festival Film San Sebastian, Berlin, ataupun Venesia. “Apa yang saya lihat di Festival Film Kazan tidak kalah mutunya dibandingkan dengan festival di Karlovy Vary atau San Sebastian. Dalam hal ini saya melihat dedikasi dari para penyelenggara maupun orang-orang yang membuat film untuk kontes ini,” katanya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.