Tanaman Raksasa di Sakhalin: Fenomena Alam atau Mistik?

Legion Media
Sejumlah tanaman di Pulau Sakhalin memiliki ukuran 2—8 kali lebih besar daripada ukuran normalnya. Adakah campur tangan supranatural terkait hal ini, atau itu hanyalah imbas dari kondisi alam tertentu?

Alam Sakhalin memesona dengan berbagai keunikannya. Di bagian utara pulau terdapat pohon aras (tumbuhan asli pegunungan Himalaya), sementara di bagian selatannya tumbuh bambu tropis. Dari seribu jenis tanaman yang ada di pulau ini, termasuk yang terancam punah, yang paling mengejutkan datang dari sejumlah tanaman yang di tempat lain di berbagai belahan dunia memiliki ukuran lebih kecil, tetapi berukuran raksasa di sana. Sebagai contoh, tanaman burdock yang biasanya tumbuh hingga 70 sentimeter dan dropwort (seledri air) yang biasanya tumbuh hingga 150 sentimeter, di sana tingginya berkisar 2—3 meter.  

Pulau Raksasa

Orang Rusia memiliki lelucon tentang varietas lokal tanaman raksasa Sakhalin: "Jika hujan turun saat Anda berada di pegunungan, berteduh saja di bawah burdock!" Sebenarnya lelucon itu cukup masuk akal karena dengan rata-rata diameter daun tiga meter, tanaman itu bisa menjadi payung yang bisa digunakan untuk beberapa orang sekaligus.

Tinggi dropwort (yang sebenarnya merupakan rumput liar) di Sakhalin mencapai 2,5 meter. Ukuran itu lebih tinggi dua kali lipat daripada ukuran rata-rata di daratan Rusia. Sementara, tanaman soba (gandum kuda) menjulang hingga setinggi empat meter, meskipun ukuran rata-rata di benua itu (Sakhalin terletak di bagian Asia Rusia) hanya 50 sentimeter. Publikasi lokal sering menerbitkan artikel tentang cara menyingkirkan rumput liar yang mengganggu lahan perkebunan sayur penduduk. Tanaman itu memiliki kemampuan yang baik dalam beradaptasi dan cepat menyebar serta memenuhi wilayah baru.

Tanaman raksasa Sakhalin sangat menarik perhatian para Ilmuwan pada era Soviet. Untuk menemukan jawaban dari fenomena gigantisme itu, para ahli geologi mentransplantasikan burdock dari Sakhalin ke bagian Eropa Rusia. Akan tetapi, tanaman itu hanya tumbuh sesuai dengan ukuran normalnya. Para ahli Prancis juga mencoba menanam soba Sakhalin di tanah mereka pada 1935. Namun, tanaman itu juga tumbuh dengan ukuran normal. Semua eksperimen yang mereka lakukan setiap hari tak memberikan hasil yang memuaskan.

Tentu saja, ada sebagian orang yang percaya bahwa ada penjelasan mistis atas fenomena itu, tetapi para ilmuwan pada akhirnya memiliki penjelasan ilmiah untuk menjelaskannya. Ternyata, gigantisme tigak mempengaruhi semua tanaman di pulau itu, melainkan hanya pada tanaman yang tumbuh di lokasi-lokasi retakan kerak bumi bagian atas. Tempat-tempat aktivitas tektonik tersebut mengandung tanah yang sangat basah, kaya kandungan tembaga, serium, dan krom, yang berkemungkinan besar mempengaruhi ukuran yang dihasilkan.

Alasan lain yang disebutkan oleh para ilmuwan adalah adanya fenomena pulau raksasa, tempat tumbuhnya spesies flora dan fauna tertentu yang tumbuh dengan ukuran gigantik. Namun, itu bukanlah flora dan fauna endemik Sakhalin, tetapi bisa juga ditemukan di berbagai tempat lain, salah satunya di Selandia Baru.

Asinan dan Manisan Burdock

Asinan daun burdock raksasa adalah makanan pembuka paling populer di Sakhalin. Asinan itu dapat ditemui di mana-mana, baik di rumah, toko-toko, dan kafe. Menurut orang-orang, rasanya persis seperti daging.

Daun burdock biasanya dikumpulkan sekitar Mei-Juni, ketika batangnya segar dan lembut. Penduduk setempat yakin, burdock yang tumbuh di dekat sungai dan tempat-tempat basah lainnya memiliki daun yang lebih segar. Batang nya direndam dalam air sekitar lima jam, lalu digoreng dengan bumbu atau diawetkan untuk musim dingin.  Burdock yang diawetkan itu biasanya disajikan sebagai makanan penutup. Rasa manisnya didapat tanpa menambahkan gula, melainkan hasil dari proses alami dari batangnya.

Berjalan puluhan kilometer ke tempat kerja atau sekolah dan mengemudi beberapa jam untuk bisa mengakses internet — semuanya mungkin terjadi di Rusia.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki