Fatwa Larangan Pernikahan Beda Agama Tuai Perdebatan di Antara Ulama Rusia

Aleksandr Avilov/Moskva Agency
Sesuai ketentuan mazhab Hanafi yang dianut umat Islam di Rusia, sejumlah ulama mengatakan bahwa seorang muslim boleh menikah dengan penganut Kristen atau Yudaisme.

Majelis Ulama Dewan Spiritual Muslim Rusia telah mengeluarkan fatwa larangan pernikahan beda agama bagi muslim. Namun, fatwa tersebut ternyata menyulut perdebatan di antara pengurus organisasi itu sendiri, lapor portal berita Meduza.

Keputusan larangan pernikahan beda agama ini dipublikasikan di situs web Dewan Spiritual Muslim Rusia pada Selasa (10/11). Namun, masalah ini sebetulnya telah dibahas sejak November 2019 lalu. Para ulama menyimpulkan bahwa pernikahan beda agama hanya mungkin terjadi dalam kasus tertentu berdasarkan keputusan dan pertimbangan mufti setempat.

Majelis Ulama berargumen, pasangan suami istri seharusnya menganut nilai-nilai kehidupan yang sama, termasuk dalam hal agama.

Wakil Ketua Majelis Ulama, Mufti Moskow Ildar Alyautdinov, mengatakan bahwa fatwa tersebut dibuat untuk menjaga identitas nasional dan agama, serta mengurangi jumlah perceraian. “Pernikahan beda agama kerap menyebabkan kesalahpahaman di antara anggota keluarga. Anak-anak akhirnya tidak mendapatkan pendidikan agama yang baik. Akibatnya, fondasi keagamaan dalam keluarga lemah,” kata sang mufti. Namun, ia menekankan bahwa perempuan nonmuslim yang, misalnya, menganggap Yesus bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan, seperti Nabi Muhammad, mengakui keesaan Tuhan, dan bersedia menjalankan perintah agama berdasarkan Al-Qur'an boleh dinikahi.

Beberapa jam kemudian, keputusan Majelis Ulama Dewan Spiritual Muslim Rusia dikritik Majelis Ulama Dewan Spiritual Muslim Tatarstan, wilayah dengan populasi muslim terbanyak di Rusia. Ulama-ulama Tatarstan mengatakan bahwa, sesuai ketentuan mazhab Hanafi, yang dianut umat Islam di Rusia, seorang muslim boleh menikah dengan penganut Kristen atau Yudaisme. Selain itu, Dewan Spiritual Muslim Tatarstan menekankan bahwa “tiap fatwa yang dikeluarkan harus mempertimbangkan persatuan dan kerukunan antarumat beragama di Rusia”. Selain Dewan Spiritual Muslim Tatarstan, fatwa tersebut juga dikritik oleh organisasi muslim lainnya, Majelis Spiritual Muslim Rusia, sebuah organisasi independen yang bergerak di luar Dewan Spiritual Muslim.

Di sisi lain, Mufti Chechnya Salakh-Khadzhi Mezhiev mendukung Majelis Ulama Dewan Spiritual Muslim Rusia. Menurutnya, larangan tersebut tak perlu diperdebatkan lagi karena sudah ditetapkan oleh agama. “Terkait perkawinan (beda agama) ini dan pelarangannya, semua orang (muslim) tahu bahwa Islam melarang pernikahan dengan nonmuslim. Ini sama sekali tak perlu dibahas atau diperdebatkan. Tak ada gunanya mempertentangkan masalah ini,” kata Mezhiev.

Sementara itu, pengurus Dewan Spiritual Muslim Rusia memilih tak mengomentari fatwa tersebut. Damir Mukhetdinov, Wakil Ketua Dewan Spiritual Muslim Rusia, menekankan bahwa Majelis Ulama hanyalah salah satu badan dalam Dewan Spiritual Muslim dan berhak mengekspresikan pandangan yang bahkan tak sejalan dengan posisi umum organisasi. Sementara itu, kebenaran dan ketepatan padangan tersebut “kami serahkan kepada Allah.”

Mukhetdinov juga menekankan bahwa fatwa larangan pernikahan beda agama tidak bersifat wajib bagi seluruh muslim. “Di negara sekuler, keputusan ulama tidak dianggap sebagai hukum positif. Ulama hanya berusaha mengingatkan umat, mengetuk hati nurani mereka, supaya takut (beriman) dan bertanggung jawab kepada Allah,” kata Mukhetdinov.

Selanjutnya, baca juga sejumlah kisah mengenai pasangan yang berhasil mempertahankan hubungan romantis mereka meski berbeda kepercayaan.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki