Apa yang Membedakan Perayaan Paskah di Rusia dan di Barat?

Para jemaat menghadiri Kebaktian Malam Paskah di Biara Khutynskiy Spaso-Preobrazhenskiy Varlaamiyev.

Para jemaat menghadiri Kebaktian Malam Paskah di Biara Khutynskiy Spaso-Preobrazhenskiy Varlaamiyev.

Konstantin Chalabov/Sputnik
Tak banyak perbedaan antara Paskah Ortodoks dengan umat Kristen lainnya. Sekalipun ada perbedaan, itu bukanlah sesuatu yang prinsipil. Umat Kristen Ortodoks, Katolik, dan Protestan sama-sama percaya pada kebangkitan Kristus.

Nikolai Gogol, penulis besar Rusia dari abad ke-19 yang lebih memilih tinggal di Italia, menulis bahwa perayaan Paskah di Rusia tak seperti di tempat lain. Ia menyebutkan bahwa orang Rusia lebih fokus pada gagasan mengalahkan kematian, dan budaya Rusia pada umumnya lebih mementingkan budaya Paskah — berbeda dengan tradisi Barat yang lebih mementingkan Natal.

Hingga kini, Paskah masih menjadi hari libur utama umat Kristen di Rusia. Pada hari Paskah, atau tepatnya saat berlangsungnya prosesi Kebaktian Malam Paskah, orang-orang yang biasanya tak pernah pergi ke gereja dan mungkin tak memahami hubungan mereka dengan Tuhan, akan datang ke gereja. Dalam beberapa hal, Paskah adalah liburan paling egaliter dalam Ortodoks Rusia karena semua orang boleh berpartisipasi dalam prosesi yang berlangsung di gereja, yakni memegang lilin yang menyala.

Konon, banyak orang Rusia menganggap orang-orang Katolik kurang menghargai Paskah atau tidak merayakannya sama sekali, malah lebih menghayati Natal dan memuja Perawan Maria. Kenyataannya, cara berbagai denominasi Kristen merayakan Paskah cenderung lebih dangkal daripada substansial.

Paus Fransiskus tersenyum pada akhir Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 9 April 2017.

Gagasan pemersatu Paskah Rusia dan Barat adalah kepercayaan akan Kebangkitan Kristus — orang-orang Ortodoks, Katolik, dan Protestan sama-sama meyakini hal itu. Terlepas dari siapa yang merayakan Paskah dan bagaimana merayakannya, Kebangkitan adalah peristiwa sentral dalam Injil. Ini mewakili harapan orang-orang beriman yang bercita-cita untuk dibangkitkan seperti Kristus. Namun, orang Kristen di tiap negara merayakannya dengan cara mereka masing-masing.

Masalah Kalender

Poin utama perselisihan antara orang Kristen di Barat dan Timur adalah kalender. Gereja Ortodoks Rusia menggunakan kalender Julius, yang awalnya diperkenalkan oleh Julius Caesar pada abad pertama sebelum Masehi. Sementara, gereja-gereja Barat mengadopsi kalender Gregorius yang ditetapkan Paus Gregorius XIII pada abad ke-16. Terdapat selisih 13 hari antara kedua kalender (akan menjadi 14 hari pada 2100).

Pada abad ke-4, para pendeta sepakat bahwa Paskah akan dirayakan pada hari Minggu pertama setelah kemunculan bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi yang jatuh pada 21 Maret. Untuk menghitung bulan purnama pertama setelah 21 Maret, orang-orang Ortodoks menggunakan kalender Julius, sementara umat Katolik menggunakan kalender Gregorius. Aspek lain yang jadi perhatian saat menghitung penanggalan Paskah adalah fakta bahwa bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi kadang jatuh pada hari yang berbeda. Meski demikian, sekitar sepertiga dari semua kasus, orang-orang Katolik dan Ortodoks merayakan Paskah pada hari yang sama.

Seorang gadis cilik bermain di antara bunga-bunga musim semi menjelang Festival Paskah di Kew Gardens di London Barat, 30 Maret 2017.

Sekalipun tanggal perayaan tak jatuh di hari yang sama, baik paus maupun patriark Moskow mengucapkan selamat satu sama lain pada hari Paskah. Ketika Paskah jatuh pada hari yang sama, seperti pada 2017 lalu, momen tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan kasih persaudaraan dan semua orang kembali mengingat gagasan persatuan Kristen yang didasarkan pada Injil yang sama.

Dua perempuan berjalan melewati cokelat kelinci Paskah di toko pembuat cokelat Belgia Neuhaus di Brussel.

Sebagai catatan, sebagian besar umat Kristen Protestan Rusia, kecuali Gereja Lutheran, menghitung tanggal Paskah berdasarkan kalender Julius, sama seperti Gereja Ortodoks Rusia. Namun, Gereja Ortodoks Amerika dan Yunani beralih ke gaya baru dan merayakan Paskah pada hari yang sama dengan umat Katolik. Di Rusia, Gereja Ortodoks mengikuti penanggalan Julius secara ketat karena peralihan ke gaya baru akan memicu kemarahan di kalangan jemaat konservatif dan memprovokasi perpecahan.

Suara Rakyat Rusia

Paskah adalah hari raya yang sangat penting dan sakral bagi umat Ortodoks. Setelah ibadah panjang dan puasa yang ketat selama sepekan sebelum Paskah, pastor, setelah memimpin prosesi di luar gereja menyanyikan doa dan nyanyian rohani, berhenti di depan pintu yang tertutup pada tengah malam. Kemudian, ia akan membukanya, secara simbolis membuka Makam Suci dan mengumumkan kepada dunia bahwa Kristus telah bangkit.

Selama ibadah, pastor dan jemaatnya bertukar salam — ‘Kristus telah bangkit!’ dan ‘Sesungguhnya dia telah bangkit!’. Seluruh ritual meninggalkan kesan mendalam, dan teriakan penuh kegembiraan orang-orang bergema di langit malam. Penyair ternama Rusia Aleksandr Pushkin pernah menulis bahwa ia senang pergi ke gereja pada hari Paskah karena ia bisa mendengar suara orang-orang Rusia di sana.

Jika di Barat salah satu simbol Paskah yang paling menonjol adalah Kelinci Paskah yang membawa telur, telur-telur Paskah di Rusia akan ditemani dengan kulich, atau kue Paskah. Sebetulnya, kue Paskah cukup populer di seluruh Eropa, dan terdapat banyak resep kue Paskah dari Italia yang juga dijual di Rusia.

Konsekrasi kue dan telur Paskah saat Paskah di Biara Khutynskiy Spaso-Preobrazhenskiy Varlaamiyev.

Salah satu tradisi kuliner otentik Rusia adalah paskha (bahasa Rusia untuk Paskah), yang merupakan hidangan yang terbuat dari keju, kismis, dan rempah-rempah, dan dibentuk piramida — melambangkan Makam Kristus. Sementara untuk permainan Paskah, Rusia sama seperti banyak negara Eropa lainnya. Misalnya, lomba menggelindingkan telur Paskah telah menjadi tradisi umum di Jerman dan Rusia sejak abad ke-19, dan kini juga menjadi acara tahunan di Amerika Serikat yang diadakan di Lapangan Selatan Gedung Putih.

Baru-baru ini, tradisi tersebut kembali bangkit di Rusia. Banyak toko menjual lintasan miring khusus yang digunakan untuk menggelindingkan telur — setiap pemain akan berlomba menggelindingkan telur untuk mendapat hadiah yang ditaruh di garis akhir.

Kadang, ‘perkelahian’ terjadi ketika seseorang melempar telur lain dengan telurnya sendiri untuk melihat siapa yang akan pecah lebih dulu. Ibu-ibu rumah tangga juga bersaing menghias telur mereka sekreatif mungkin dan memberikannya satu sama lain sebagai hadiah (telur Fabergé terkenal yang dibuat untuk kaisar juga diberikan sebagai hadiah untuk istri dan ibunya).

Setelah tujuh minggu masa pra-Paskah, makanan Paskah disajikan dengan berbagai macam hidangan daging. Meski begitu, hari libur ini tak punya sajian khusus, seperti angsa panggang di hari Natal. Sebelum 1917, berbagai hidangan disiapkan untuk Paskah, dari daging babi sampai unggas.

Anehnya, terdapat sisi menyedihkan dalam perayaan Paskah di Rusia. Tradisi mengunjungi pemakaman untuk memperingati kerabat yang meninggal masih bertahan sejak era Soviet. Orang-orang biasanya berziarah ke makam anggota keluarga yang telah wafat, menyantap telur Paskah dan kulich, dan minum alkohol.

Sebelum Uni Soviet runtuh, Gereja Ortodoks Rusia tak berusaha menekan kebiasaan ini dan pihak berwenang Soviet tak keberatan dengan liburan religius yang digantikan oleh ritual semipagan untuk menghormati nenek moyang seseorang, selama orang-orang tak pergi ke gereja.

Gereja masih belum bisa menghentikan tradisi ini, dan orang-orang masih mengunjungi pemakaman di hari Paskah, dan mengabaikan permintaan pendeta supaya memilih hari lain untuk berziarah.

Warga Moskow di pemakaman Mitino pada hari Minggu Paskah.

Lagipula, kita bisa melihat kebiasaan ini dari sisi lain dan menganggapnya sebagai cara orang-orang menjaga akar Kristen tetap hidup selama era ateisme ketika hanya ada sedikit gereja yang dibuka.

Hingga kini, Rusia menggunakan dua sistem kalender: Gregorius dan Julius. Kalender Gregorius dipakai dalam kehidupan sipil, sedangkan kalender Julius digunakan untuk tujuan keagamaan. Lantas, kenapa Geraja Ortodoks enggan beralih ke sistem penanggalan Gregorius? Bacalah selengkapnya!

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki