Mengapa Perempuan Rusia Tak Butuh Feminisme Ala Barat?

Natalya Nosova, Olga Konina, Alexander Kislov
Bagi kebanyakan perempuan Rusia, konsep feminisme modern adalah sesuatu yang asing dan bahkan antagonis. Berdasarkan pengalaman pribadinya, seorang jurnalis dan pengusaha perempuan yang lahir di Moskow dan tinggal di AS menjelaskan alasan di balik fenomena ini.

Ada sebuah jalur kereta di Siberia yang dibangun oleh nenek saya bersama perempuan-perempuan Soviet lain. Menikah dua kali dan bercerai dua kali, ia selalu sibuk bekerja hingga tak punya waktu untuk anak-anaknya sendiri. Pada usia 17 tahun, putrinya, ibu saya, pindah dari kota kecil di utara ke ibu kota Rusia untuk kuliah di Universitas Negeri Moskow (MGU).

Anehnya, bahkan dengan mengambil jurusan Filsafat, ia akhirnya bekerja membangun sesuatu. Pada masa Soviet, mahasiswa biasa dianggap sebagai buruh gratis, dan di musim panas mereka kerap harus bekerja di ladang kentang atau situs-situs konstruksi. Ada sebuah toilet di bandara Murmansk yang dibanggakan oleh ibu saya. Ia membantu pembangunan toilet tersebut, dan tak berhenti sejak itu.

Ia meraih gelar Ph.D. dan bekerja sebagai dosen di universitas, tapi ia adalah perempuan yang ‘bisa melakukan segalanya’. Ia bisa dengan mudah memindahkan furnitur, mengganti wallpaper, atau memperbaiki keran bocor. Saat saya cukup besar untuk berjalan, saya mulai membantu ibu dengan tugas-tugas itu. “Ayo, Nak,” katanya sambil menopang lemari di pundaknya. “Kamu bisa!”

Pembangunan Pembangkit Energi Tenaga Air Ust-Ilimsk di Sungai Angara, Oblast Irkutskaya, 1973.

Ia menceraikan ayah saya saat ia tengah mengandung karena ayah saya dianggap ‘tak waras’, dan tak seperti kebanyakan perempuan yang takut kesepian dan kemiskinan, ia tahu bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri. Ia belajar semua ini dari nenek saya, dan saya belajar ini darinya. Namun, saya tak seperti itu.

‘Parasit’ Harus Bekerja

Masalah saya dengan feminisme Amerika, alih-alih hak dan gaji yang setara, hal itu berubah menjadi “saya-bisa-lakukan-segalanya-sendiri”, serta agresi terhadap laki-laki dan bahkan lebih buruk, terhadap perempuan yang merasa atau berpikir berbeda. Feminisme Amerika menjadi sesuatu yang beracun.

Perempuan di AS sebelumnya mengalami masa-masa sulit. Mereka harus memperjuangkan hak-hak mereka untuk bekerja. Di AS dan banyak negara Eropa, perempuan baru meninggalkan dapur dan masuk ke dunia kerja baru-baru ini, yaitu sekitar 50 tahun lalu. Mereka harus menjadi lebih agresif. “Mari kita berbagi tagihan, dan tak perlu membukakan pintu untuk saya karena saya-bisa-lakukan-semua-sendiri,” kata seorang feminis Amerika yang beracun.

Di Rusia, perempuan tak bisa memahami gagasan bahwa mereka harus mengompromikan sisi feminin mereka demi mengklaim posisi keberadaan mereka. Di Uni Soviet, Anda harus bekerja. Kalau tidak, Anda dianggap ‘parasit’. Konstitusi Soviet menyatakan bahwa bekerja adalah “kewajiban dan tugas yang terhormat bagi tiap warga negara.” Namun, apakah Anda kira perempuan-perempuan itu tak mengalami masa sulit?

Para pekerja di Pabrik Jam Uglich, Uni Soviet, 1983.

Mereka pergi ke pabrik dan laboratorium penelitian setiap hari karena tak ada pekerjaan online yang bisa dilakukan dari rumah. Namun, fakta bahwa Anda punya pekerjaan bukan berarti masyarakat melupakan peran gender tradisional. Setelah bekerja, mereka masih harus memasak makan malam, membersihkan rumah, mengurus anak, dan lain-lain.

Perempuan Soviet tak punya mesin cuci atau penyedot debu. Jadi, mereka benar-benar kelelahan dan stres. Di mana para suami di malam hari? Tiap keluarga berbeda, tapi kebanyakan laki-laki bersantai di sofa, dengan majalah olahraga di satu tangan dan bir di tangan yang satunya.

Kebebasan

Meski banyak masalah dengan kekerasan dalam rumah tangga dan seksisme di Rusia modern, seorang perempuan kini akhirnya bisa menjadi apa pun yang ia mau. Kita mungkin punya lebih banyak pilihan dari sebelumnya. Anda bisa menjadi ibu rumah tangga, ilmuwan, bankir, seorang ibu, atau membuat perusahaan sendiri. Jika mau, Anda juga boleh terlihat cantik dan mencari laki-laki untuk mendukung Anda sekalipun itu tak selalu jalur ‘karir’ yang stabil.

Menurut UNESCO, 41 persen para peneliti ilmiah di Rusia adalah perempuan.

Sejak runtuhnya Uni Soviet, perempuan Rusia lebih menunjukkan sisi feminin mereka. Kadang mereka melakukannya secara berlebihan dengan rok pendek dan hak tinggi, tapi jelas lebih baik daripada palu dan arit.

Di Rusia, menurut UNESCO, 41 persen orang yang bekerja di riset ilmiah adalah perempuan. Ini angka yang lebih tinggi dibandingkan di mana pun di dunia. Semua tentang pola pikir: perempuan tak melihat “langit-langit kaca” (suatu kiasan yang pertama kali dicetuskan kaum feminis yang merujuk pada pembatas dalam karier wanita yang berprestasi tinggi) yang dihadapi warga Amerika saat mereka memilih jurusan masa depan.

Bagaimana Kita Bisa Mendapatkan Segalanya?

Sebelum datang ke AS, saya pikir negara ini adalah negara yang paling berorientasi terhadap perempuan di dunia. Lagipula, pembicaraan mengenai kesetaraan hak berasal dari sini. Namun pada acara teknologi finansial pertama saya di New York, saya melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa saya adalah satu dari lima perempuan di ruangan dengan hampir seratus orang laki-laki.

Saya kemudian berbicara dengan beberapa profesional perempuan itu: mereka benar-benar pejuang yang ulung. Tak mudah untuk bergelut di bidang teknologi, apalagi perempuan lulusan jurusan sains, teknologi, teknik, dan matematika hanya 35 persen. Para pendiri start-up teknologi meraup pendanaan yang lebih rendah, sekitar 15 persen dari seluruh pendanaan tahap awal (jenis penawaran saham ketika investor menanam modal awal dengan imbalan porsi saham di sebuah perusahaan).

Kebanyakan perempuan di AS melakukan banyak hal untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Mereka mungkin tahu lebih banyak mengenai solidaritas daripada perempuan lain di dunia. Ada banyak acara makan malam hanya untuk perempuan, program pendidikan, dan akselerasi berorientasi perempuan di AS. Namun, institusi artifisial ini mengeksklusikan mereka yang seharusnya menjadi partisipan utama dalam debat kebebasan perempuan — laki-laki.

Jelas, laki-lakilah yang harus belajar untuk menghadapi bos, kolega, bawahan perempuan, terlebih anak-anak perempuan mereka. Laki-laki di seluruh dunia harus menerima perempuan sebagai pemimpin di bidang teknologi, keuangan, dan industri lain; tak hanya di atas kertas, tapi dalam hati dan pikiran.

Namun baik pendekatan ‘saya-bisa melakukan-segalanya’, berbagi tagihan dengan pacar Anda, maupun mencoba lebih maskulin dari pria tidak akan membantu. Saya tak bisa bilang apa yang bisa membantu. Namun sekarang ini, jika saya butuh memindahkan furnitur, saya lebih memilih meminta tolong pada laki-laki yang kuat. Bukan karena saya tak bisa melakukannya sendiri. Saya hanya tak mau. Saya melakukan apa yang tiap perempuan seharusnya lakukan. APA PUN. YANG. IA INGINKAN.

Klik tautan berikut untuk membaca pandangan lain yang benar-benar bertolak belakang dengan opini ini.

Artikel ini tidak merefleksikan pandangan resmi Russia Beyond.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond
More