Seberapa Diskriminatifkah Rusia Terhadap Perempuan?

Saat Laporan Gap Kesetaraan Gender Global 2016 di Forum Ekonomi Dunia, Rusia menduduki peringkat 75 dari 144 negara.

Saat Laporan Gap Kesetaraan Gender Global 2016 di Forum Ekonomi Dunia, Rusia menduduki peringkat 75 dari 144 negara.

Getty Images
Dalam pemungutan suara, orang-orang Rusia berkata bahwa mereka menjunjung kesetaraan gender, namun kenyataannya cukup berbeda.

Pada Oktober, seorang pengajar sekolah di kota Saratov meminta murid kelas lima mengerjakan PR mengenai perbedaan peran pria dan wanita. Setelah seorang murid perempuan menulis bahwa tugasnya sama saja untuk kedua jenis kelamin – memasak, mencuci piring, merapikan rumah, mencuci baju, dan menjemput anak di sekolah – kakak perempuannya memotret PR-nya dan mengunggahnya di Twitter dengan kalimat: “Sepertinya adik saya mampu mengatasi PR diskriminatif ini dengan baik-baik saja.”

Tweet itu kemudian viral di Rusia, dan bukan karena PR-nya.

“Masih diskriminatif,” balas seorang pengguna laki-laki. “Kenapa taka da tulisan mengebor dinding, mereparasi perabotan, membuang sampah, mengurus mobil, dan lain-lainnya?”

Seperti banyak negara, Rusia punya sejarah mengenai perlakuan tak pantas terhadap perempuan, dan sebelum 1917 negara itu memang didominasi laki-laki. Perempuan-perempuan kelas atas lebih dilihat sebagai barang dan ‘trofi’ milik negara.

Sementara itu, petani perempuan bekerja sama kerasnya dengan yang laki-laki, dan mereka juga masih dianggap lebih inferior dibanding suami, ayah, dan saudara laki-lakinya. Isu diskriminasi terhadap perempuan tak pernah dibahas karena tak ada yang bisa membayangkan bagaimana jika yang sebaliknya terjadi.

Namun begitu, dengan adanya Uni Soviet, perempuan menjadi kamerad dan diberi hak memilih, juga memiliki hak yang sama atas pendidikan dan pekerjaan. Setiap perempuan, bahkan yang sebelumnya dari keluarga kerajaan, harus bekerja sebanyak laki-laki. Perempuan Soviet juga berperang saat Perang Dunia II, menjelajahi antariksa, dan menaklukkan Gunung Elbrus. Tidak ada yang membahas seksisme karena gaji orang-orang di seluruh negeri kurang lebih sama.

Zaman sudah berubah, dan sekarang perempuan tak lagi dipaksa bekerja – tidak ada hukum parasitisme sosial seperti saat era Soviet – namun tetap saja, kebanyakan masih bekerja keras. Oleh karena itulah isu kesetaraan hak masih relevan sekarang.

Kesetaraan Gender, Kecuali dalam Politik

Ksenia Sobchak

Saat Laporan Gap Kesetaraan Gender Global 2016 di Forum Ekonomi Dunia, Rusia menduduki peringkat 75 dari 144 negara. Nilai ini lebih buruk dari 2015 ketika Rusia berada di peringkat 53. Fakta menarik – Rusia berada di peringkat 40-45 dalam hal ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, namun di peringkat 129 dalam pemberdayaan politik.

Berita baru-baru ini mengenai rencana jurnalis dan sosialita Ksenia Sobchak untuk bersaing di pilpres 2018, dan reaksi terhadapnya dari banyak orang Rusia, kembali menunjukkan jarangnya perempuan di Negeri Beruang Merah berkecimpung dalam politik.

Hanya ada 64 perempuan dari 446 deputi di Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma), dan juga sangat jarang ada menteri perempuan. Baru ada 14 dalam 100 tahun terakhir!

Tatyana Golikova, Ketua Kamar Akuntansi Rusia, menghadir pertemuan pleno di Duma, Oktober 2017

Anda akan kaget, tapi 33 persen orang Rusia tidak menentang presiden perempuan, menurut penelitian dari Levada Center pada Maret 2017. Namun, sekitar 30 persen responden tidak sepakat perempuan berpolitik. Di saat yang bersamaan juga, kebanyakan orang Rusia mendukung kesempatan yang sama untuk perempuan dan laki-laki.

Wanita Ingin Gaji yang Lebih Kecil

Menurut badan statistic negara Rusia Rosstat, pada 2016 gaji perempuan dan laki-laki berbeda 27,4 persen (laki-laki lebih besar). Gap ekonomi berbasis gender ini hampir sama dengan AS, di mana untuk setiap satu dolar AS (sekitar 13,500 rupiah) yang diterima laki-laki, perempuan menerima 79 sen (data 2016). Di Inggris, laki-laki mendapatkan gaji 18.1 persen lebih banyak dibanding perempuan.

Berbeda dengan negara-negara Barat, gap gender semakin tumbuh di Rusia – tiga tahun yang lalu, perbedaan gaji hanya 25,8 persen. Beberapa pengamat menekankan bahwa diskriminasi di dunia kerja dapat dilewatkan pembahasannya karena banyak perusahaan yang tak mau mempekerjakan perempuan untuk posisi-posisi tertentu: tidak hanya sebagai atasan tapi juga pekerjaan “berat seperti masinis kereta metro, misalnya.

Kitab Undang-Undang Pekerja Rusia melarang perempuan untuk bekerja ‘berat’ dan di tempat-tempat ‘berbahaya’ seperti di metro (kecuali layanan konsumen), sebagai pandai besi, dan lainnya. Pada 2009, seorang pelajar Rusia mengajukan protes hukum untuk bekerja sebagai masinis kereta, tapi Mahkamah Agung menolaknya. Menurut mitra pelaksana ASAP Recruitment Liya Sergeeva kepada harian Vedomosti, posisi eksekutif biasanya ditawarkan untuk laki-laki di bidang konstruksi, teknik, dan IT.

Namun begitu, perempuan Rusia punya lebih banyak pilihan karier di industri kecantikan, retail, dan makanan. Yang juga menarik adalah penelitian dari situs web Rabota.ru bahwa ekspektasi gaji perempuan lebih sedikit 10 persen dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Mungkin gajinya bisa lebih tinggi, tapi banyak perempuan yang bahkan tak memikirkan itu.

Bukan Pekerjaan Laki-laki?

Tak heran bahwa 54 persen orang Rusia berpikir laki-lakilah yang harus menyokong keluarganya, demikian menurut survei dari Pusat Penelitian Opini Publik Rusia (VTsIOM) baru-baru ini.

Namun demikian, ketika mengasuh anak dan membersihkan rumah, 80 persen orang Rusia beranggapan baik laki-laki mau pun peremuan harus melakukannya bersama-sama.

Orang Rusia beranggapan suami istri harus mengasuh anak bersama-sama.

Berbicara seksisme, mungkin orang berpikir ini hanya mengenai perempuan, namun ketika perceraian terjadi hukum di Rusia mengharuskan anak untuk tinggal bersama ibunya. Beberapa laki-laki Rusia menganggap ini tak adil. Pada musim semi 2017, “Komite Ayah” meminta orang yang pertama meminta perceraian (di Rusia, 80 persen perempuan yang meminta cerai terlebih dahulu) juga turut membayar untuk pengasuhan anak.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.

More