Ketika ‘Ubi’ dan ‘Kuda’ Bertemu

Contoh tulisan Sunda. Foto: penulis

Contoh tulisan Sunda. Foto: penulis

Saya jarang sekali berada di Jakarta. Terakhir kali saya mengunjungi Jakarta sekitar bulan Oktober lalu, sebelum akhirnya kembali lagi ke sana pada bulan April ketika saya harus tampil di stasiun televisi. Oleh sebab itu, saya selalu merasakan perbedaan yang kuat antara Jakarta dan Bandung. Mulai dari gedung-gedung tinggi, cuaca, hingga gaya berpakaian orang-orang—semuanya berbeda. Namun, suatu ketika ada hal yang mengherankan, sesuatu yang terasa sangat aneh. Tiba-tiba saja saya sadar bahwa saya dapat mengerti apa yang orang-orang bicarakan, baik di halte bus, di kafe, maupun di dalam antrian.

Bandung adalah "kerajaan" bagi bahasa Sunda. Orang-orang di sana lebih memilih untuk berbicara menggunakan bahasa Sunda.

Saya mengakui bahwa keragaman dan berlimpahnya bahasa daerah di Indonesia merupakan hal yang mengejutkan bagi saya. Bahasa Sunda, yang dipakai sehari-sehari di kota tempat saya tinggal, merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di Indonesia. Namun, secara keseluruhan bahasa itu bagaikan bahasa dari planet lain. Contohnya kata "bunga, pisang" dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Sunda—dengan sedikit perubahan pengucapan—berarti "senang sekali " (bungah pisan). Sementara, buah "mangga" dalam bahasa Indonesia memiliki arti "silakan" dalam bahasa Sunda.

Bahasa Sunda memiliki aksaranya sendiri, yang sayangnya praktis sudah tidak lagi digunakan saat ini. Aksara Sunda hanya dilestarikan sebagai warisan budaya yang digunakan dalam penulisan nama-nama jalan atau bangunan-bangunan resmi. Namun, terkadang abjad-abjad tersebut dapat dilihat di kaus-kaus orang yang ingin menunjukkan identitas atau simpati mereka terhadap budaya Sunda.

Ditulis dalam bahasa Sunda dengan kesalahan. Dibaca "Asaa Apraka". Foto: penulis

Saya telah mempelajari abjad-abjad tersebut sebelum Oktober tahun lalu, tapi sepertinya saya hanya mampu berbalas tulis menggunakan abjad Sunda itu dengan orang yang menulis nama-nama jalan dalam bahasa Sunda.

Dalam bahasa Sunda dikenal beberapa tingkat kehalusan bahasa. Tingkat bahasa yang paling sopan dikenal sebagai bahasa Sunda lama. Bahasa ini layaknya bahasa baku tingkat tinggi, yang terkadang digunakan dalam lagu-lagu daerah atau dalam pertunjukan wayang golek.

Dalam kehidupan sehari-hari, penduduk setempat lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa Sunda atau campuran. Seperti yang dilakukan oleh para dosen saya misalnya, orang-orang yang belajar di fakultas tari di universitas saya harus dapat mengerti ke arah mana itu "kenca", ke mana itu "katuhu", atau pun berhitung dalam bahasa Sunda. Sementara, kata-kata "sakali deui" dan "ka dieu" dapat dipahami dari konteks kegiatan yang sedang kami lakukan.

Teman saya yang bernama Lukman, yang kebetulan kantornya berada tak jauh dari tempat saya tinggal, secara sukarela mengajarkan bahasa Sunda kepada mereka yang berminat. Saat ada waktu senggang, saya dan Lukman belajar bahasa Indonesia dan Sunda. Saya pun tak ketinggalan mengajarkan Lukman bahasa Rusia (Lukman, bagus sekali!).

Di dalam kelas, sering kali terdapat hal-hal yang menggelikan, terutama ketika berhubungan dengan kata-kata yang sama sekali tidak memiliki arti kasar di satu bahasa, sedangkan di bahasa lain justru sebaliknya.

Ubi manis dalam perjalanan menuju Garut. Foto: penulis

Dari proses belajar mengajar di kelas, saya tahu bahwa ketela paling manis yang dalam bahasa Indonesia dinamakan ubi, dalam bahasa Sunda terdengar seperti kata hujatan kotor yang terdiri dari tiga huruf yang paling sering diucapkan di Rusia. Lalu, saya mengetahui bahwa kalimat tanya "ty kuda" (ke mana kamu pergi) dalam bahasa Rusia, terdengar seperti "kotoran kuda" dalam bahasa Sunda. Jadi, untuk melewati kantor Lukman dan tak sedikit pun tertawa, adalah hal yang tak mungkin. Jika seseorang menawarkan ubi manis ke kantor, kami dengan Lukman akan saling menertawai (karena tak bisa dikatakan dengan cara lain) dan saling menuduh satu sama lain membayangkan hal kotor.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.