Katya Masuk TV

Apa pun bisa terjadi di Indonesia, dan itu benar. Bagaimana orang-orang dapat masuk dalam siaran televisi? Biasanya produser suatu acara akan mencari tokoh atau peserta acara dengan menghubungi para kenalannya yang dapat membantu dalam hal tersebut.

Pada suatu ketika, ternyata guru pengajar saya sendirilah yang merupakan kenalan dari sang produser. Ketika saya sedang disibukkan dengan gerakan "tarian bertahan hidup"—sambil mengayunkan tongkat bambu dalam pelajaran seni bela diri pencak silat—sang pengajar memanggil saya dan berkata bahwa saya perlu pergi ke Jakarta dalam waktu tiga hari lagi untuk tampil dalam sebuah acara di stasiun televisi utama, untuk menari pada sebuah acara siaran langsung.

Setelah pembicaraan itu, datanglah malam renungan. Saya merasa setiap kali waktu terus berjalan, saat itu pula selalu terbesit keinginan untuk menolak permintaan tersebut. Ketika keesokan harinya tiba, tetap ada keinginan untuk menolak karena hal tersebut menyebabkan tekanan batin yang besar. Saya harus meninggalkan kelas kuliah dan juga harus menari di depan publik, sedangkan (badan) saya merasa belum cukup beradaptasi dengan gaya tarian yang akan dibawakan nanti.

Saya merasa telepon dari sang produser, yang berbicara dalam bahasa Indonesia yang cepat, serta dihujani dengan kata-kata slang dan singkatan-singkatan, disusul dengan permintaan untuk memotong lagu pentas atau merombak koreografi, serta mengirimkan video penampilan dan lain-lain, seperti halnya minyak yang dituangkan ke dalam api.

Semua itu terjadi ketika saya sedang berkutat dengan persiapan untuk ujian, ditambah lagi dengan persiapan untuk sebuah penampilan minggu depan. Saat itu, saya bahkan tidak tahu apakah akan ada satu hari libur saja di bulan Mei ini, dan sepertinya tidak. Namun, setelah berdiskusi, kami sepakat untuk tetap melakukan penampilan tersebut karena itu adalah sebuah pengalaman yang unik, sebuah tantangan untuk mengalahkan ketidakpercayaan diri, dan sekaligus akan menjadi kisah untuk diceritakan kelak pada anak dan cucu kita nanti.

Selain itu, saya pikir ini adalah salah satu cara untuk mempromosikan tarian-tarian nasional Indonesia. Jadi, biarlah saya menjadi "korban kecanggungan" ini untuk mempromosikan tarian itu, tidak apa-apa, saya pikir tarian-tarian tersebut memang layak untuk lebih dikenal masyarakat luas.

Perjalanan ke Jakarta

Di Jakarta, saya akan menarikan salah satu bentuk tarian Jaipong, yaitu Sonteng, yang saya pelajari pada semester pertama. Saya sangat terkesan oleh salah satu asisten dalam pemakaian kostum, tata rias, dan sekaligus membantu transportasi saya, yaitu Icha yang luar biasa. Dia merupakan salah seorang teman sekelas saya yang tanpanya saya tidak akan bisa apa-apa.

Perjalanan dari Bandung ke Jakarta, dapat ditempuh rata-rata dalam waktu 3-4 jam. Gladi resik dimulai pada pukul 10 pagi, sedangkan siaran langsung dimulai pada pukul 1 siang. Karena itu, kami perlu berangkat sejak pukul 5 pagi. Kami berkumpul di sekitar universitas pukul 04.30, dan itu artinya saya harus bangun jam 4 pagi. Saya menunggu di sekitar pintu gerbang kampus. Ketika waktu menunjukkan pukul 04:55, saya sudah berusaha membangunkan Icha lewat telepon selama 30 menit. Akhirnya, kami baru bisa pergi meninggalkan Bandung pada jam 6 pagi. Namun, karena hari itu adalah hari Minggu dan terdapat program Car Free Day, jalanan di Jakarta ternyata benar-benar kosong dan kami bisa sampai di Jakarta hanya dengan waktu dua jam saja.

Di jalanan, kami melihat orang-orang berolahraga, seperti lari pagi dan bersepeda. Pagi itu, cuaca cerah dan belum terlalu panas. Di sekitar situ, saya mendengar percakapan bahasa Indonesia, yang diselingi dengan kata-kata "lo-gue". Selang beberapa waktu kemudian, datanglah mobil saluran televisi yang menjemput kami. Kami pun berangkat ke studio lokasi shooting. Ketika kita melihat di layar kaca, tampaknya studio shooting itu begitu besar. Padahal, sebenarnya studio itu seperti sebuah hanggar berukuran sedang yang didekorasi.

Di antara yang tampil dalam acara tersebut terdapat pula teman-teman satu angkatan saya. Para pelajar dari universitas kami (alumni dan yang masih belajar) biasanya sering bertemu di berbagai acara, baik yang diadakan di kota Bandung maupun yang diadakan di tempat-tempat di luar kota Bandung.

Gladi resik kami sebelum acara dimulai. Foto: Icha

Persiapan Tampil

Sesampainya di studio untuk gladi resik, ternyata ruangan tersebut masih kosong—hanya ada tim-tim peserta yang akan bertanding. Saya pun baru diberitahu di studio bahwa saya tidak perlu mengenakan kostum panggung. Saat itu, saya mengenakan pakaian bukan untuk tampil cantik, tetapi saya mengenakan sesuatu yang saya rasa nyaman dipakai, agar dapat tidur di bus dan mudah berganti pakaian, dan saya mengenakan kaus bertuliskan logo yang tampak mencolok di bagian dada sehingga harus ditutupi menggunakan rompi yang telah dibawakan oleh asisten-asisten kami.

Tema dari acara ini adalah remake tarian negara-negara lain (Korea, Jepang, AS, dan Afrika). Setiap satu penampilan selesai, para pembawa acara harus menemukan secara acak orang asing yang berada di tengah kerumunan dalam ruang studio untuk dibawa ke atas panggung dan diminta untuk mengajarkan tarian-tarian tradisional. Setelah itu, kejutan! Sang orang asing itu pun (saya) menari sendirian di atas panggung.

Saya dan Icha sedang menunggu dimulainya acara. Foto: Icha

Seperti itulah kira-kira yang terjadi. Icha merias saya dengan memberikan warna pada celak mata (eye shadow) yang lebih tebal dan alis saya pun dibuat lebih hitam supaya mereka tidak kehilangan saya di tengah sorotan lampu studio.

Pada pukul 12.30, kami dipanggil kembali masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi oleh para penonton. Kami diberikan instruksi final yang pada dasarnya kami diminta agar lebih ekspresif. Kami berdiri di tempat dan posisi masing-masing, dan tepat pukul 13.00 acara pun dimulai.

Seluruh tim peserta keluar ke atas panggung untuk melakukan tarian pembukaan. Kemudian, sang pembawa acara pun keluar dan disusul kedatangan para juri ke dalam ruang studio (maaf, pengetahuan saya mengenai tokoh-tokoh di Indonesia sangatlah dangkal). Setelah itu, dimulailah kompetisi antartim peserta yang diselingi dengan jeda iklan.

Para peserta jelas mengerahkan seluruh kemampuannya. Sementara, sang MC pun seperti biasanya menebarkan gurauan-gurauan yang dapat mereka selipkan. Komentar para juri pun didukung oleh tepuk tangan penonton dalam ruangan dan sesekali gemuruh ketidakpuasan. Setelah penampilan itu selesai, MC (secara bersamaan, mereka berjumlah empat orang) mendatangi saya dan meminta saya untuk naik ke panggung dan... ya, semuanya seperti yang telah diceritakan sebelumnya.

Dimulai! Foto: Icha

Setelah jeda iklan kedua, kami keluar dari ruangan dan bersiap-siap untuk pulang. Berbeda dengan saat kami tiba di Jakarta, kami harus keluar dari Jakarta menuju Bandung melewati kemacetan yang ternyata sangat lama. Sementara, kami berdua mempunyai jadwal kelas jam 8 pagi keesokan harinya.

Dari cuplikan acara.

Namun demikian, dari pengalaman ini ada satu hal yang bisa saya simpulkan. Apakah menari dalam sebuah siaran langsung di stasiun televisi utama begitu menakutkan? Tidak, tidaklah menakutkan. Universitas kami (ya, Indonesia secara keseluruhan) mengajarkan saya untuk tidak khawatir dan tidak gugup menjelang penampilan. Yang menakutkan adalah melihat rekaman penampilan saya sendiri. Saya masih butuh waktu lama untuk memberanikan diri menontonnya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.