Upacara Tiga Bulanan dan Upacara Kremasi di Bali

Ketika saya pertama kali tiba di Bali, saya tidak tahu apa pun tentang agama Hindu. Foto: penulis

Ketika saya pertama kali tiba di Bali, saya tidak tahu apa pun tentang agama Hindu. Foto: penulis

Seperti yang saya tulis sebelumnya, mayoritas penduduk Bali memeluk agama Hindu. Ketika saya pertama kali tiba di Bali, saya tidak tahu apa pun tentang agama itu. Tapi lama-lama, setelah bertemu banyak orang, saya menjadi lebih akrab dengan budaya ini. Saya pikir orang-orang di Bali berpikir sangat berbeda, dan kami memiliki pandangan dunia yang berbeda, dan itu bagus sekali.

Pertama, yang sudah saya katakan, beraneka ragam upacara Bali diadakan hampir setiap hari, tetapi ada upacara khusus, dan kami berhasil mengunjungi beberapa upacara itu.

Upacara pertama, yang kami mengunjungi disebut Upacara Tiga Bulanan. Upacaranya dilakukan untuk anak yang berusia 3 bulan dan yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah. Sebelum anak pertama menyentuh tanah, diadakan upacara tersebut.

Orang Bali memberi hadiah kepada dewa, serta memasak babi guling, babi panggang. Makanan itu sebelumnya hanya digunakan untuk upacara, tapi sekarang sudah dimakan dalam hidup sehari-hari. Selain itu, babi guling sudah dijual oleh banyak warung.  Upacara seperti itu berlangsung cukup lama, sekitar 3 jam, dan kemudian makan siang bersama.

Upacara Tiga Bulanan dilakukan untuk anak yang berusia 3 bulan dan yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah.  Foto: penulis

Upacara yang benar-benar berbeda yang kami diberi kesempatan untuk mengunjunginya adalah kremasi. Menurut tradisi Hindu, ketika seseorang meninggal, mayatnya dikremasi dalam rangka waktu tertentu. Orang Bali percaya bahwa manusia harus kembali ke tempat dari mana ia berasal, yaitu ke laut dan air. Upacara itu biasanya dimulai pagi dan dihadiri oleh semua anggota banjar (setiap desa di Bali memiliki beberapa banjar, yaitu komunitas; di desa kami, misalnya, ada 12 banjar).

Orang Bali memberi hadiah kepada dewa, serta memasak babi guling. Foto: penulis

Pertama, beberapa orang mengambil peti, meletakkannya di atas takhta khusus, dan berputar tiga kali! Saya berdiri di sana, dan benar-benar takut! Orang Bali percaya bahwa ritual itu membantu mengusir roh jahat. Kemudian semua (sekitar 100 orang) bersama-sama berjalan-jalan di pinggiran desa, di mana ada banyak ruangan kosong, mengucapkan selamat tinggal pada almarhum, dan membakar peti mati. Saya belum pernah melihat pemandangan seperti itu dalam hidup saya! Kemudian mengepul debu di atas laut, namun acara itu hanya dihadiri keluarga almarhum.

Saya ketika menghadiri salah satu upacara keagamaan di Bali. Foto: penulis

Kami hadir pada upacara kremasi wanita yang sangat tua, dan saya melihat bahwa upacara itu cukup tenang. Saya tidak melihat siapa pun menangis. Seperti yang saya jelaskan tadi, menurut agama Hindu jiwa akan lahir kembali, dan dalam keluarga yang sama. Menurut tradisi Hindu, setelah orang tua punya bayi, mereka meminta seorang brahmana agar diberitahu jiwanya punya siapa ada di tubuh anak mereka, dan sebagai suatu peraturan, itu adalah jiwa seorang kerabat.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.