Mengenal Perbedaan Agama di Indonesia

Gereja Protestan di Bogor. Foto: penulis

Gereja Protestan di Bogor. Foto: penulis

Saya tahu bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi orang yang memeluk agama lain pasti juga ada.

Sebagai contoh, di pulau Flores mayorias penduduk beragama Kristen. Apalagi, ada orang Kristen di Sulawesi Utara, di mana mayoritas penduduk Kristen Protestan. Di Bali, tentu saja, hampir semua orang memeluk agama Hindu.

Saya bisa melihat bahwa ada kehormatan kepada agama-agama lain di Indonesia. Misalnya, di desa kami , ada gereja Katolik dan gereja Protestan, di mana layanan diadakan secara reguler.

Saya ada kesempatan untuk mengunjungi gereja Protestan bersama dengan salah satu teman sekelas saya dari Indonesia, namanya Grandy, dia berasal dari Manado, dan ia adalah orang Protestan.

Sebelum berangkat, saya bertanya baju apa yang harus saya pakai. Di Rusia, mayoritas penduduk memeluk agama Kristen Ortodoks, dan kalau kita pergi ke gereja, semua perempuan harus memakai rok panjang dan menutup kepala dengan semacam jilbab, sedangkan laki-laki harus lepaskan penutup kepala dan memakai celana panjang.

Gereja Kristen Ortodoks di desa nenek saya di Rusia. Foto: penulis

Di dinding gereja Ortodoks bisa dilihat gambaran Yesus Kristus. Foto: penulis

Grandy mengatakan kepada saya bahwa dalam gereja Protestan tidak ada peraturan seperti itu, dan saya bisa masuk pakai celana, dan itu sangat baik jika saya memakai sepatu berhak tinggi, blus putih, dan bahkan make-up! Saya sangat terkejut karena di Rusia peraturannya beda sekali.

Gereja Protestan di desa kami sangat indah, tapi tentu saja sangat berbeda dari gereja Ortodoks. Ketika kami masuk ke dalam, saya melihat banyak orang berpakaian meriah yang duduk di bangku panjang. Di Rusia, di gereja-gereja Ortodoks, orang selalu berdiri selama layanan. Selain itu, di gereja Protestan tidak ada ikon dan gambar Yesus Kristus. Saya pernah membaca bahwa Protestan tidak mengakui gambar Kristus dan percaya bahwa orang tidak bisa menyembah sesuatu yang memiliki citra manusia.

Di dalam gereja Ortodoks. Foto: penulis

Dalam layanan di gereja Protestan, pendeta dulu bernyanyi sendirian, lalu bersama semua orang yang hadir, membaca tulisan suci bersama-sama. Secara keseluruhan, semuanya sangat interaktif! Di Rusia, biasanya hanya pendeta yang menyanyi. Di sini semua orang bisa bernyanyi, dan itu luar biasa bagi saya. Kemudian, pada akhir layanan, seseorang mulai mengumpulkan donasi. Menurut agama Protestan, jika seseorang senang dan ia bersyukur atas apa yang dia miliki, ia harus memberikan uang untuk gereja. Di Rusia, pendanaan seperti itu biasanya dilakukan dalam bentuk makanan: di gereja kita bisa selalu melihat kue, cokelat...

Itu sangat menarik mengunjungi gereja Protestan, dan saya sangat senang bahwa saya punya kesempatan itu. Tapi meskipun ada perbedaan keyakinan dan ritual kami, saya merasa sangat baik waktu saya berada di gereja itu. Ada perasaan damai dan ketenangan, seolah-olah saya berada di gereja Ortodoks di Rusia. Mungkin, ini perasaan yang sama dalam semua agama karena mereka mengajarkan kita hal yang baik.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.