Tahun 2006, Pesawat Be-200 Bantu Padamkan Kebakaran Kalimantan

Pesawat amfibi Be-200  dapat mengumpulkan 12-13 ton air dalam waktu 12-14 detik. Foto: Mikhail Tsyganov

Pesawat amfibi Be-200 dapat mengumpulkan 12-13 ton air dalam waktu 12-14 detik. Foto: Mikhail Tsyganov

Tahun 2014 tersiar kabar Indonesia menegosiasikan peminjaman pesawat amfibi unik milik Rusia, Be-200, yang pernah ikut memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan pada 2006 silam.

Ketika itu, berdasarkan permintaan presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dua buah pesawat Rusia tersebut didatangkan ke Sumatera untuk kemudian dikirim ke Kalimantan.

“Pesawat pemadam kebakaran Rusia, tanpa mencoba membesar-besarkan, sangatlah unik. Oleh karena itu pemerintah hampir tidak memiliki alternatif lain,” kata Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia saat itu, Kusmayanto Kadiman.

“Tentu kami bisa saja meminta bantuan ke negara lain, tetapi pesawat pemadam yang memiliki daya angkut seperti Ilyushin dan Be-200 merupakan monopoli Rusia,” ujar Kusmayanto.

Be-200 dapat lepas landas di landasan pacu yang hanya sepanjang 1.800 meter, di perairan tertutup, bahkan di laut dengan kedalaman lebih dari dua meter dan tinggi ombak 1,2 meter (atau gelombang dengan kekuatan berskala 3).

Namun yang paling penting, pesawat Rusia ini tidak perlu mendarat untuk melakukan pengisian air. Saat melakukan gerakan “planing” (gerakan mengapung di atas air), Be-200  dapat mengumpulkan 12-13 ton air dalam waktu 12-14 detik. Caranya dapat dilihat di slideshow di bawah ini: 

Pemadaman maksimal yang efektif ditunjang oleh keberadaan sumber air yang tidak jauh dari tempat terjadinya kebakaran. Dalam situasi itu, operasi pemadaman dilakukan dengan siklus sebagai berikut: pesawat mengumpulkan air, terbang menuju titik api, menurunkan air ke titik tersebut dan kembali melakukan pengisian ulang air. Pemadaman akan lebih efektif bila melibatkan beberapa pesawat secara bersamaan dalam operasi tersebut.

Menurut pemimpin tim aviasi Rusia dan Kepala Aviasi Satuan Tanggap Darurat Rusia, Letnan Jendral Rafael Zakirov, di Rusia kebakaran sebesar itu biasanya dipadamkan dengan kompleksitas yang tinggi, menggunakan gabungan beberapa pesawat yang harus bersinergi dengan satuan di darat.

“Pada tahap awal, kami menggunakan Ilyushin Il-76. Saat Il-76 melakukan pengisian kembali, pesawat Be-200 dan helikopter masuk menggantikan. Hanya skema operasi seperti itu yang dapat menjamin keberhasilan 100 persen dalam waktu yang cukup singkat. Dalam skema operasi tersebut, pesawat pada dasarnya bertugas membendung titik kebakaran agar tidak menyebar saat satuan darat tidak dapat mendekat ke titik tersebut,” ungkap Zakirov.

Pilot-pilot Rusia dengan mudah mencetak rekor dalam operasi peragaan yang berlangsung pada waktu yang sama dengan kunjungan resmi presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Saint Petersburg dan Moskow. Dalam sehari, sebuah pesawat Be-200 dapat menjatuhkan air ke titik api sebanyak 132 ton dengan tepat sasaran.

Zakirov menerangkan, cara pemadaman Rusia berbeda dengan Amerika. Amerika memadamkan api dari ketinggian  yang jauh, berusaha tidak mendekat ke api. Hal tersebut, menurut Zakirov, tidak terlalu efektif.

“Kami tidak melihat cara tersebut bahkan di Eropa, walau kami ikut serta dalam pemadaman kebakaran di Portugal dan Spanyol,” kata salah satu pilot Satuan Tanggap Darurat Rusia, Valeriy Kruze.

“Dari udara terlihat jelas bahwa di Kalimantan semua kehidupan berdekatan dengan jalur air dan bahkan berlangsung di atas air. Indonesia mampu menghentikan pergerakan dan menyediakan daerah khusus pada salah satu sungai terbesar setempat sebagai pengumpulan air untuk pemadaman kebakaran, bahkan juga menempatkan dispatcher aviasi di sungai tersebut,” cerita Kruze.

Salah satu staf Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi saat itu, Sutrisno, menyatakan bahwa Be 200 adalah kendaraan yang menakjubkan. “Kami merekomendasikan pemerintah untuk memiliki pesawat-pesawat Rusia, agar dapat memiliki akses penggunaan pesawat tersebut secara permanen, karena kebakaran di Sumatera dan Kalimantan terus berulang setiap tahunnya,” ujar Sutrisno.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.