Tomsk: Berjuta Cerita dari Sebuah Kota Kecil

Saya merasa sangat terkesan melihat salju yang begitu tebal di kota Tomsk! Kredit: author.

Saya merasa sangat terkesan melihat salju yang begitu tebal di kota Tomsk! Kredit: author.

Tepat di hari ini saya sudah berada di Kota Tomsk selama 22 hari. Sebagai seseorang yang selama ini tinggal di negara tropis, tiga minggu sudah sangat cukup untuk membiasakan diri dengan temperatur musim dingin di kota ini yang rata-rata bersuhu minus 25 derajat celcius.

Memang, salah satu tujuan saya memilih kota Tomsk untuk saya kunjungi adalah karena saya ingin sekali merasakan sesuatu yang berbeda dari negara tempat tinggal saya yang di antaranya adalah cuacanya. Maka dari itu, saya memilih kota ini di antara kota-kota di Rusia lainnya untuk program “Explore Russia” yang diadakan oleh AIESEC.

Namun ternyata, selama saya berada di Tomsk, saya mendapatkan banyak hal di luar ekspektasi saya di samping perbedaan cuacanya dengan Indonesia. Tomsk bukan hanya sebuah kota kecil di kawasan Siberia atau Rusia bagian Asia yang bersuhu dingin di hampir sepanjang waktu, namun Tomsk adalah kota kecil dengan berbagai kejutan.

Perjalanan saya dari Indonesia ke Tomsk cukup lama. Pertama-tama saya harus menuju Moskow terlebih dahulu dan menempuh perjalanan selama 16 jam sampai di bandara Demodedovo, kemudian saya harus pindah ke bandara Sheremetyevo dengan menggunakan metro (atau kereta bawah tanah) untuk penerbangan domestik ke kota ini. Perjalanan yang saya tempuh untuk mencapai Tomsk sekitar empat jam, sehingga jika dijumlahkan, waktu yang saya butuhkan untuk mencapai Tomsk dari Jakarta adalah lebih dari sehari.

Sebenarnya, selain pesawat domestik, ada juga pilihan transportasi lain yang dapat digunakan untuk menuju Tomsk, yaitu kereta Trans-Siberia. Dengan menggunakan kereta ini, kita dapat menikmati pemandangan, namun waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Tomsk adalah sekitar dua hari, sehingga kereta ini mungkin hanya cocok digunakan untuk berlibur bersama keluarga atau teman, bukan untuk perjalanan tugas seperti saya.

Tanggal 5 Februari 2014 saya tiba di Tomsk. Begitu saya keluar dari bandara, saya bertemu orang-orang yang sangat ramah dan bersikap hangat kepada saya. Seorang pria menawarkan saya untuk memakai telepon genggamnya karena melihat saya kebingungan mencari wi-fi. Kemudian saat saya hendak naik bus, para penumpang yang lain terlihat sigap untuk membantu saya mengangkat koper saya yang super besar. Stereotip mengenai orang-orang Rusia yang bersikap dingin dan tidak ramah langsung terpatahkan di sini.

Selama hampir seminggu pertama tinggal di kota ini, saya selalu menyasar jika hendak ke luar atau pulang ke flat saya karena bagi saya hampir semua jalan terlihat sama, putih, dan tertutup salju. Sehingga, saya selalu bertanya kepada orang di jalan dengan menunjukkan secarik kertas berisi alamat saya. Yang mengejutkannya, semua orang yang saya tanya itu tidak hanya sekedar menunjukkan arah yang harus saya tuju dengan menggunakan tangan, tetapi mereka mengantarkan saya sampai tujuan. Bahkan, pernah sekali ada seorang ibu yang melihat bahwa saya orang asing yang tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti ini dan ia merangkul tangan saya supaya saya merasa hangat.

Kota ini sungguh aman dan membuat para pendatang merasa nyaman. Bayangkan saja, di persimpangan-persimpangan yang tidak ada traffic light-nya pun, para pengendara akan selalu berhenti untuk memprioritaskan pejalan kaki, bahkan angkutan umum yang pastinya mengejar setoran sekalipun. Pernah sekali saya tidak sengaja menjatuhkan uang dan orang-orang di sekeliling saya langsung memberi tahu bahwa saya menjatuhkan uang. Di dalam bus, baik itu trem, maupun bus, semua penumpang juga nampak selalu memberikan kesempatan duduk bagi orang-orang yang diprioritaskan, seperti orang tua dan ibu yang membawa anak kecil.

Selama tiga minggu ini saya melihat sebuah keramahan dan kebaikan orang-orang Tomsk yang nampak telah menjadi sebuah sistem di kehidupan mereka!

Kepuasan saya mengenai kota ini pastinya tidak hanya sebatas suasana nyaman yang diciptakan oleh masyarakatnya, tetapi juga keindahannya. Pemandangan yang saya lihat selama 22 hari ini sangat menyenangkan. Kota-kota di Siberia memang terkenal dengan keindahannya, maka dari itu kota-kota di kawasan ini biasanya digunakan sebagai Akademgorodok yang berarti tempat khusus bagi para akademisi untuk tinggal.

Sudah beberapa dekade Siberia menjadi tempat untuk melakukan riset di Rusia dan beberapa tempat di Rusia ini memiliki Akademgorodok yang selalu merupakan tempat yang paling indah dan tenang agar para akademisi itu dapat melakukan penelitiannya dengan baik. 

Artikel Terkait

7 Tempat Terbaik untuk Menikmati Musim Dingin Rusia

Russia Direct: Tiga Kesalahpahaman Persepi Mengenai Orang Rusia

Alasan Memilih Rusia sebagai Tempat Kuliah

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.