Mengapa Mantan Pemain Bola Muda Rusia Pindah ke Damaskus?

Eljaish Sports Club.

Eljaish Sports Club.

Press Photo
Pemain bola berusia 26 tahun Basel Abdulfattah lahir dan dibesarkan di Rusia. Namun, pada Januari 2016, ia memutuskan pindah ke tanah kelahiran ayahnya, Suriah. Dalam wawancara dengan media Rusia, ia menceritakan kehidupannya di negara yang hancur-lebur akibat perang sipil tersebut.

Pada Januari 2016, Rusia menyaksikan transfer pemain bola teraneh dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tak ada kaitannya dengan kontrak gemuk dengan pemain-pemain bintang, seperti Hulk atau Samuel Eto’o. Mantan pemain tim sepak bola muda Rusia Basel Abdulfattah, yang bermain untuk klub divisi kedua Rusia, Zenit Sankt Peterburg, pindah ke Al-Jaish di Damaskus.

Di satu sisi, keputusan pemain ini dapat dipahami. Ayahnya merupakan orang Suriah, yang datang ke Rusia pada tahun 1980-an untuk belajar ilmu teknik, menikah dengan seorang perempuan Rusia, dan betah tinggal di negara barunya. Namun, meski memiliki akar Suriah, Basel menyebut dirinya sebagai orang Rusia. Ia lahir di Sankt Peterburg, dan dibesarkan seperti anak Rusia pada umumnya. Pemuda ini tak fasih berbahasa Arab. Namun, berkaitan dengan konteks politik, keputusan untuk pindah ke Suriah yang tengah dilanda perang sipil terbilang tak biasa.

Dari Sepak Bola Akar Rumput Rusia ke Timnas Suriah

Basel menyebutkan motivasi utamanya adalah tawaran untuk bermain di tim sepak bola nasional Suriah. Meski sudah berhasil menembus Zenit, salah satu tim terkuat di Rusia, Basel menyerah untuk mencoba membobol tim nasional Rusia, dan bermain dalam klub kelas dua selama beberapa tahun terakhir.

“Opsi untuk pindah ke Suriah muncul sekitar dua – tiga tahun lalu,” kata Basel.

“Kala itu, saya dihubungi oleh pelatih tim nasional Suriah Anas Makhlouf. Saya bicara dengannya, ia bertanya apakah saya bisa membayangkan diri saya bergabung dengan timnya. Saya berdiskusi dengan ayah saya — mengapa tak mengubah karir sepak bola saya 180 derajat? Pertama kali saya dan ayah saya pergi ke Suriah pada musim panas 2015, kami sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi.”


Basel Abdoulfattakh. Sumber: PhotoXPress

Namun, proses untuk mendapatkan status kewarganegaraanya sangat lambat, dan pada musim panas 2015, Basel tak punya pekerjaan. Selama enam bulan, ia berusaha menjaga kebugaran fisiknya. Namun pada Januari 2016, Abdulfattah diundang bergabung dengan Al-Jaish — salah satu klub terkuat di Suriah.

Damaskus: Ramai dengan Segala Kesibukan

Basel menyebutkan bahwa kehidupan di Damaskus telah membaik sejak musim panas 2015. “Ketika kami terbang untuk pertama kalinya, saya sedikit takut. Banyak titik perhentian, semua orang berpakaian militer, dokumen diperiksa di mana-mana — Anda tak bisa pergi ke mana pun tanpa paspor. Situasi sangat tegang. Pesawat-pesawat tempur terbang di atas langit Damaskus tiap sepuluh menit, dan ada suara tembakan, ledakan... Kini, setelah Rusia bergabung dengan operasi di Suriah, situasi berubah. Tak ada lagi pesawat atau pun tembakan. Penuh dengan kesunyian.”

Berdasarkan pengamatan Basel, di kota-kota yang tak tergabung dengan lini depan, kehidupan sangat normal dan damai. “Masa yang sulit, separuh negara ada di bawah status darurat militer,” katanya. “Namun dua kota — Latakia dan Damaskus — sungguh aman. Warga Suriah sangatlah positif, selalu ceria dan senang tertawa dan bercanda. Kami diundang minum teh, orang-orang dari klub mengantar kami berkeliling kota. Pusat Damaskus benar-benar seperti kota modern Eropa dengan butik, kafe, dan pusat perbelanjaan raksasa. Damaskus adalah kota yang hidup!”

Sepak Bola Militer

Terdapat 20 tim yang berkompetisi dalam kejuaraan Suriah. Pertandingan kini hanya digelar di Latakia dan Damaskus. “Kini lebih sedikit orang di stadion,” kata Basel.

“Meski demikian, saya melihat foto sebelum perang, dan sungguh tontonan yang spektakuler. Lapangan luas, penuh dengan penonton. Sebagai contoh, mereka membangun stadion berkapasitas 75 ribu orang di Aleppo pada 2007, ini adalah stadion terbesar di Timur Tengah dan terbesar ketiga di Asia. Sayangnya, kita tak bisa bermain di sana sekarang.”

Klub Abdulfattah — Al-Jaish — kini dimiliki oleh tentara Suriah. “Bahkan lapangan latihan berlokasi di markas militer. Dari waktu ke waktu, pemimpin klub datang — orang-orang berseragam, para jenderal.”

Abdulfattah menandatangani kontrak dengan Al-Jaish hingga Juni. Pemain ini tak punya rencana pasti mengenai apa yang akan ia lakukan ke depannya. Namun, ia berharap dapat bermain untuk tim Suriah. “Saya berlatih dengan tim nasional di musim gugur,” katanya. “Separuh tim bermain di negara Asia lain, sepeti Uni Emirat Arab dan Qatar. Pemain Suriah sungguh diminati karena sekolah sepak bola kami disebut sebagai yang terkuat di Asia, bersama Iran.”

Jika tim nasional Suriah bertanding untuk Piala Dunia, performa Basel bisa disaksikan di Rusia pada 2018.

Masyarakat Kaukasus Taklukkan Dunia dengan Seni Bela Diri MMA Sports.ru dan R-Sport.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.