Ivan Poddubny, Sang Juara Sepanjang Masa

Ivan Poddubny meninggal pada tahun 1949. Kata-kata yang terukir di nisannya adalah: “Di sini terbaring herkules Rusia”.

Ivan Poddubny meninggal pada tahun 1949. Kata-kata yang terukir di nisannya adalah: “Di sini terbaring herkules Rusia”.

Ivan Poddubny dijuluki 'Juara dari Sang Juara' (atau 'Juara dari Kejuaraan Dunia'). Bahkan dalam Perang Dunia II, ia dihormati oleh kedua kubu.

Salah satu atlet terbaik sepanjang sejarah, petinju Ivan Poddubny, pertama kali memenangkan gelar Juara Dunia di kompetisi tinju Prancis (kini disebut Greco-Roman) pada 1905 di usia 34 dan menyandangnya selama lebih dari tiga dekade. Ia baru meninggalkan ring tinju saat menginjak usia 80-an. Meski ia beberapa kali kalah dalam pertandingan, ia tak pernah kalah dalam satu turnamen pun. Sang petinju mengaku ia hanya bertemu satu lelaki yang lebih kuat dari dirinya seumur hidup: ayahnya.

Tongkat yang digunakan Poddubny terbuat dari besi dan berbobot 15,8 kg. Pertandingan yang ia jalankan kerap berlangsung beberapa jam. Medali yang ia menangkan berjumlah beberapa kardus. Namun, istrinya mencuri banyak medali Poddubny dan meninggalkan sang atlet demi seorang pejabat Tentara Putih pada masa Perang Sipil Rusia.

Kehidupan Poddubny benar-benar bergantung pada talentanya. Ia kerap dihadapkan pada situasi seperti dalam novel, episode tajam yang merefleksikan nasib bangsa, budaya, dan seluruh dunia.

Pria Kuat Versus Pembunuh

Karir Poddubny dimulai di sirkus. Sebuah tiang telegram ditaruh di pundaknya dan orang-orang bergelantungan di ujungnya hingga tiang tersebut terbelah dua. Bekerja di sirkus membuatnya mampu bertahan di masa sulit Perang Sipil. Ia mengenang masa-masa ia memulai aksi di hadapan Tentara Merah dan mengakhirinya di hadapan Tentara Putih.

Pada awal abad ke-20, Eropa tergila-gila dengan tinju Prancis. Kontes tinju dan judi tinju menghasilkan uang dalam jumlah besar. Sering kali hasil kontes sudah ditentukan sebelumnya antara impresario (pengusahan hiburan) dan petinju yang sudah disogok. Poddubny, yang merupakan pembela permainan bersih (fair play) tanpa kompromi, harus menghadapi situasi tersebut pada turnamen Eropa pertamanya. Lawannya, atlet Prancis muda Raoul Le Boucher terus meluncur dari tangannya karena sebelumnya kulitnya sudah digosok dengan minyak yang akan mengucur saat ia berkeringat. Sang lawan berusaha membeli kemenangan dari petinju Rusia namun hal itu dibocorkan ke publik. Setelah itu ia sangat membenci Poddubny bahkan menyewa pembunuh untuk membunuhnya. Poddubny berhasil menakut-nakuti mereka dengan pistol. Pada akhirnya, sang pembunuh terbunuh oleh orang yang menyewanya karena ia tak mampu membayar uang yang diminta, meski mereka gagal menjalankan misinya.

Rusia Hingga Akhir

Pada masa pendudukan Nazi di wilayah Soviet, Poddubny, yang sudah meninggalkan arena tinju dan menua, tinggal di kota Yeysk, di pesisir Laut Azov. Ia berjalan berkeliling kota tanpa melepas medali Soviet yang dianugerahkan untuknya. Karena medali tersebut, ia dibawa ke Gestapo, namun mereka segera melepaskannya kembali setelah menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Mereka bahkan memberinya pekerjaan di arena biliar, dan para orang Jerman yang mabuk dan diusir oleh Poddubny saling pamer bahwa 'Ivan yang Mengerikan' yang mengusir mereka.

Banyak pejabat Jerman yang menghabiskan masa kecilnya mengagumi lelaki kuat dari Rusia dan mengingatnya sepanjang hayat. Poddubny ditawari untuk pindah ke Jerman dan bahkan melatih atlet Jerman, namun ia menolak dan menyatakan, “Saya petinju Rusia. Dan akan saya tetap menjadi petinju Rusia.” Setelah pembebasan Yeysk, para chekist Soviet (polisi rahasia) sama sekali tak menyentuhnya meski mereka punya lebih banyak alasan untuk menuduhnya berkolaborasi dengan musuh.

“Ivan yang tak terkalahkan" ditaklukkan oleh kelaparan. Tubuh sang atlet terbiasa memiliki metabolisme energi yang tinggi. Poddubny butuh lebih banyak makanan dibanding orang biasa, dan bahkan pada masa pendudukan Nazi, pejabat Jerman memberinya lima kilo daging per bulan. Namun ini sungguh tak terbayangkan pada situasi sulit pascaperang di Rusia. Orang-orang mencoba menolong sang juara dunia, tapi ia tak pernah mendapat cukup makanan. Ia juga menjual semua pialanya dan mengirim surat ke Kremlin untuk meningkatkan rasionya, tapi ia tak mendapat balasan. Meski semua orang kekurangan gizi, Poddubny benar-benar tersiksa secara fisik. Mereka yang melihatnya setelah perang tak bisa mengenalinya sebagai mantan 'Juara dari Sang Juara'. Mereka menyebutkan ia memiliki bahu yang merosot dengan ekspresi kesedihan dan kebencian membeku di wajahnya.

Menurut laporan yang belum dikonfirmasi, sejumlah uang yang dimenangkan Poddubny di Eropa dan Amerika masih ada di rekening bank Baratnya. Namun pada tahun-tahun tersebut, ia tak bisa menggunakan uang itu.

Ivan Poddubny meninggal pada tahun 1949. Kata-kata yang terukir di nisannya adalah: “Di sini terbaring herkules Rusia”.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki