Blatter Angkat Bicara Mengenai FIFA, Putin, dan Piala Dunia 2018

Foto dari tanggal 19 November 2010 menunjukkan Presiden FIFA Joseph S. Blatter dengan mata terpejam saat konferensi pers setelah pertemuan dengan Komite Eksekutif di Zurich, Swiss. Pada konferensi pers 2 Juni 2015, Joseph Blatter menyatakan berniat mengundurkan diri dan memanggil kongres luar biasa untuk memilih penggantinya.

Foto dari tanggal 19 November 2010 menunjukkan Presiden FIFA Joseph S. Blatter dengan mata terpejam saat konferensi pers setelah pertemuan dengan Komite Eksekutif di Zurich, Swiss. Pada konferensi pers 2 Juni 2015, Joseph Blatter menyatakan berniat mengundurkan diri dan memanggil kongres luar biasa untuk memilih penggantinya.

EPA
Presiden FIFA Joseph S. Blatter yang pada tanggal 8 Oktober lalu diskors dari jabatannya oleh Komite Etik FIFA mengadakan wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS. RBTH menyajikan beberapa kutipan penting dari pejabat penuh skandal tersebut.

“Krisis dimulai dengan dendam pribadi Platini”

Sejak 2012, UEFA tidak ingin saya tetap menjabat sebagai presiden FIFA. Itu adalah tindakan yang direncanakan untuk melawan presiden FIFA. Mengenai hal itu, semua konfederasi mendukung saya, dan hanya UEFA yang berusaha menjatuhkan saya. Namun, mereka tidak berhasil. Bahkan setelah terpaan tsunami informasi yang terjadi, saya kembali terpilih sebagai presiden. Yang harus diingat adalah mereka yang bepartisipasi dalam kampanye tersebut adalah para politisi dari Uni Eropa. Parlemen Uni Eropa telah dua kali mengadopsi resolusi yang menyerukan untuk tidak memilih Blatter. Namun, ini merupakan campur tangan urusan politik ke bidang olahraga. Awalnya, target serangan adalah saya. Kemudian Michel Platini (Presiden UEFA, sementara diberhentikan dari jabatannya). Itu semua bersifat personal.

“FIFA tidak dapat dibubarkan”

Pertarungan politik kemudian tumbuh ketika negara-negara yang kehilangan hak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia (Rusia memenangkan hak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 melawan Inggris, dan Qatar pada tahun 2022 melawan AS di Komite Eksekutif FIFA pada bulan Desember 2010) mengangkat kampanye untuk meruntuhkan FIFA. Namun, FIFA tidak dapat dibubarkan. FIFA bukan Bank Swiss atau perusahaan biasa. FIFA tidak bisa dibubarkan dengan cara tersebut. Bersama-sama dengan pihak berwenang Swiss, negara-negara ini mengatur serangan terhadap FIFA dan presidennya, dan ternyata Piala Dunia dan presiden FIFA muncul pada episentrum konflik dua kekuatan geopolitik utama.

“Piala Dunia 2022 Seharusnya Digelar di Amerika Serikat”

Tadinya ada keyakinan bahwa kejuaraan akan diadakan di Rusia, negara di Eropa Timur yang tidak pernah menjadi tuan rumah sebelumnya. Amerika Serikat telah diperkirakan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Dengan demikian, dua kekuatan politik utama di dunia mendapatkan giliran sebagai tuan rumah Piala Dunia. Semua berjalan baik sampai Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan Putra Mahkota Emir Qatar, Tamim bin Hamad al-Thani. Setelah itu, Sarkozy menyampaikan kepada Platini bahwa ia ingin datang lagi ke Qatar pada tahun 2022. Kemudian tersiar kabar bahwa Piala Dunia akan digelar di Qatar. Hal ini membingungkan semua pihak. Empat suara Eropa bergeser dari AS ke Qatar. Jika tidak, AS akan memenangkan tender dengan skor 12:10. Kami merencanakan untuk mempersiapkan dua Piala Dunia yang menegangkan, 2018 di Rusia dan pada tahun 2022 di Amerika Serikat. Sebaliknya, yang terjadi, kita berbicara tentang krisis di FIFA.

“Saya seharusnya turun pada tahun 2014”

Sekarang bukan waktunya untuk menyesali apa pun karena semuanya sudah tidak mungkin lagi diubah. Saya memiliki keberanian untuk tidak lagi menjabat setelah Piala Dunia 2014 di Brasil. Namun, saya dibujuk untuk tetap menjabat oleh lima dari enam konfederasi. Mereka takut bahwa orang dari Eropa akan berkuasa dan UEFA mengendalikan sepak bola dunia, yaitu para pemain dan juga uangnya. Dalam situasi seperti ini, saya tidak punya pilihan dan tetap menjabat.

“Inggris berperilaku seperti pecundang”

Rusia tidak akan kehilangan posisi sebagai tuan rumah Piala Dunia. FIFA telah mengonsolidasikan keputusan ini dengan Rusia, tidak akan ada perubahan. Inggris berperilaku seperti pecundang. Mereka menciptakan permainan indah ini dengan prinsip fair-play, tapi Inggris kalah di babak pertama hanya dengan satu suara. Tak seorang pun ingin Piala Dunia digelar di Inggris, dan mereka mencoba membuat saya sebagai pihak yang harus disalahkan atas hal ini.

“Dalam situasi sulit, Putin selalu mendukung saya”

Suatu hari, saya bertemu dengan Putin untuk membahas Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia. Ia benar-benar menginginkan agar Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia dan bertanya mengenai kemungkinan hal tersebut. Saya menjawab bahwa itu mungkin saja. Hal ini cocok dengan konsep rotasi benua. Dalam situasi sulit, saya selalu mendapat dukungan penuh dari Presiden Putin. Ia telah banyak membantu saya. Kini giliran saya untuk mendukungnya di semua titik perdebatan.

“Saya berjanji untuk mempelajari bahasa Rusia menjelang tahun 2018”

Pada tahun 1973, saya mengunjungi Universiade di Moskow. Setelah itu, saya kembali ke Moskow pada Olimpiade tahun 1980. Saya benar-benar mendapatkan banyak kenangan dari momen-momen tersebut. Resepsi di Kremlin dilaksanakan oleh Brezhnev yang nyaris tidak bergerak seolah-olah berjalan dengan sepatu roda. Saya ingat larangan minum alkohol di zaman pemerintahan Gorbachev. Bagaimana saya pergi ke pemandian air panas dengan mantan Presiden Persatuan Sepak Bola Rusia Vyacheslav Koloskov. Saya juga mulai belajar bahasa Rusia. Namun sayangnya, saya lebih sering membaca dalam bahasa asing lain dibandingkan bahasa Rusia. Bahasa Spanyol, Portugis, Jerman, Prancis bagi saya tidak ada masalah. Saya dapat berbicara dengan aksen Rusia, tetapi membaca aksara kiril benar-benar tidak mungkin! Saya berjanji untuk belajar bahasa Rusia menjelang Piala Dunia 2018.

Pertama kali dipublikasikan di TASS.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.