Vasily Oshchepkov, Sang Pencipta Olahraga Bela Diri Sambo

Vasily Oshchepkov lahir pada 6 Januari 1893 di sebuah desa kecil bernama Alexandrovsky Post, yang terletak di sebelah barat laut Pulau Sakhalin. Foto: RIA Novosti

Vasily Oshchepkov lahir pada 6 Januari 1893 di sebuah desa kecil bernama Alexandrovsky Post, yang terletak di sebelah barat laut Pulau Sakhalin. Foto: RIA Novosti

Sambo, sebuah gabungan gaya bertinju yang berbeda, merupakan seni bela diri yang paling populer di Rusia. RBTH akan mengulas kehidupan seorang lelaki dari Sakhalin yang menciptakan Sambo, seni bela diri yang paling populer di Rusia.

Vasily Oshchepkov lahir pada 6 Januari 1893 di sebuah desa kecil bernama Alexandrovsky Post, yang terletak di sebelah barat laut Pulau Sakhalin. Setelah orangtuanya wafat pada 1907, ia dikirim ke Seminari Ortodoks Tokyo. Seminari teresbut memiliki spesialisasi mengajarkan bahasa Jepang, salah satu bidang yang sangat dikuasai oleh Oshchepkov.

Santo Nicholas, Uskup Agung Jepang dan pendiri Seminari Ortodoks Tokyo mendeskripsikan Oshchepkov sebagai anak yang tenang dan sopan. Para siswa seminari menjalankan gaya hidup orang Jepang. Mereka mengenakan baju tradisional, menyantap makanan lokal, dan tidur di futon (kasur lipat Jepang yang digunakan sebagai tempat tidur). Oshchepkov adalah siswa yang 'paling Jepang' dibanding rekan-rekan Rusia-nya (terdapat sekitar 20 pemuda Rusia yang belajar di seminari tersebut).

Pada 1908, kelas judo masuk dalam kurikulum seminari. Okamoto Yoshiro, seorang pejabat kepolisian dari distrik Kanda, Tokyo, yang telah berada di tingkat dua dan, mengajar kelas tersebut. Oshchepkov dan teman-teman seminari lainnya menunjukkan kemampuan yang luar biasa dan kemudian diundang ke Institut Kodokan, pusat komunitas judo dunia.

Sama seperti seminari, disiplin di Kodokan sangat keras dan tentu sulit bagi seorang pemuda Rusia untuk menghadiri dua sekolah sekaligus. Lebih buruknya lagi, kelas judo sangat kasar dan Oshchepkov harus mempraktikkan seni bela diri tersebut bersama mereka yang pernah berperang dengan negaranya beberapa tahun sebelumnya. Nasionalisme sedang berkembang di Jepang dan fakta bahwa Oshchepkov akhirnya menjadi siswa Rusia pertama yang lulus dari Kodokan, memegang dan tingkat satu, adalah sebuah pencapaian heroik. Para siswa Oshchepkov ingat gurunya menyimpan sebuah kliping surat kabar yang memberitakan pencapaiannya, berjudul "Russian Bear Prevails" (Beruang Rusia Menang). Bersamaan dengan itu, Oshchepkov juga lulus dari seminari dengan nilai yang memuaskan dan dikirim ke Harbin untuk bertugas di angkatan bersenjata Rusia sebagai penerjemah militer.

 

Tak peduli seberapa sulit masa-masa yang ia lewati saat bertugas di angkatan bersenjata atau seburuk apa situasi di tanah kelahirannya, ia tak pernah berhenti mengasah kemampuan judonya. Pada 1917, Oshchepkov menjadi salah satu penyelenggara turnamen judo internasional pertama bersama Otaru-city Commercial High School. Di tahun yang sama, pada kunjungannya ke Jepang, ia melewati ujian untuk dan tingkat dua di judo.

Setelah Revolusi 1917 pecah di Rusia, Oshchepkov ditugaskan sebagai penerjemah di kantor pusat pasukan ekspedisi Jepang. Pada 23 Februari 1918, surat kabar Urajio Nippo melaporkan, "Perhimpunan Olahraga Vladivostok akan menggelar kompetisi judo dan tinju. Turnamen akan dimulai hari ini pada pukul 03.00. Peserta kompetisi adalah para lelaki pemberani dari kapal perang Jepang dan Inggris." Di hari yang sama, komandan armada kelima Jepang, Laksamana Muda Kato Hiroharu, yang merupakan judoka andal, menulis di jurnal hariannya, "Saya berkesempatan menyaksikan kompetisi judo yang digelar oleh Perhimpunan Judo. Vasily sangat luar baiasa! Ia membuat saya berpartisipasi dalam demonstrasi pasangan kata bersamanya."

Sayangnya, Oshchepkov harus segera meninggalkan Vladivostok. Ia memutuskan untuk menjadi distributor film, ia membeli semua perangkat yang dibutuhkan dan pergi ke Sakhalin Utara. Selama beberapa tahun ia menayangkan film untuk militer Jepang yang ditempatkan di pulau tersebut, berperan sebagai pemilik perusahaannya, sekaligus menjadi pengontrol proyektor dan benshi, yaitu orang yang mengisi narasi untuk film bisu.

Beberapa waktu kemudian, ia pindah ke Jepang, yang menjadi rumah baru bagi banyak imigran Rusia pada masa awal revolusi. Sayangnya, ia gagal mendirikan perusahaan film di negaranya dan harus kembali ke Uni Soviet pada musim semi 1926. Setelah itu, ia mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya untuk mempromosikan judo.

Pada 1929, Oshchepkov menjadi pelatih judo di klub olahraga utama Tentara Merah, kemudian pindah ke Institut Pendidikan Fisik Moskow (Moscow Physical Education Institute). Dalam waktu singkat, Oschepkov, yang tak lagi berhubungan dengan kolega-kolega asingnya karena berada di Uni Soviet, berhasil membuat judo sangat populer di kalangan warga Soviet dan mengubahnya sekaligus mengadaptasinya dengan realitas Soviet, menciptakan seni bela diri yang benar-benar baru yang kemudian disebut sambo (akronim dari samozashchita bez oruzhia 'pertahanan diri tanpa senjata') pada tahun 1940-an.

Menurut Alexey Gorbylev, seorang sejarawan seni bela diri dari Universitas Negeri Moskow, ada bukti yang menunjukkan bahwa Oshchepkov juga menguasai setidaknya puluhan praktik pertahanan diri yang berbeda dari seluruh dunia. Pada akhir 1930-an, judo Oshchepkov sangat berbeda dengan judo klasik Kodokan, lebih unggul dalam banyak aspek, termasuk beragam atletik dan teknik terapan yang dipinjam dari seni bela diri lain, dan menjadi sistem pertahanan diri yang sangat unik. "Dengan serangkaian teknik dan pengembangan, sistem judo Oshchepkov sangat luar biasa dan merupakan salah satu sistem pertempuran tangan kosong yang paling canggih di dunia," kata Alexey Gorbylev.

 

Sambo menjadi sangat populer di Jepang. Negara tersebut telah mengelar beberapa kompetisi untuk Piala Vladimir Putin (Presiden Rusia menyandang gelar 'Master Olahraga' baik dalam judo dan sambo) dan kota Narita, Jepang menjadi tuan rumah kompetisi dunia pada November 2014 lalu. Warga Rusia tentu tersanjung dengan perkembangan tersebut. Sementara bagi orang Jepang, sambo bisa menjadi salah satu hal yang membanggakan karena diciptakan oleh seorang lelaki yang dididik di Tokyo, memiliki pengetahuan mendalam tentang judo dan mendedikasikan hidupnya untuk mempromosikan seni bela diri yang fantastis ini.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.