Maria Sharapova Merangkak Menuju Peringkat Teratas WTA

Maria Sharapova berpose sambil memegang trofi yang ia menangkan dalam pertandingan tenis tunggal wanita melawan Petra Kvitova dari Republik Ceko di Turnamen China Open, Beijing, 5 Oktober 2014. Foto: AFP/East News

Maria Sharapova berpose sambil memegang trofi yang ia menangkan dalam pertandingan tenis tunggal wanita melawan Petra Kvitova dari Republik Ceko di Turnamen China Open, Beijing, 5 Oktober 2014. Foto: AFP/East News

Berkat kemenangannya di turnamen China Open, Sharapova kemungkinan akan menjadi pemain nomor satu dalam Women’s Tennis Association pada akhir musim ini untuk pertama kalinya.

Setelah berkutat selama seminggu dalam turnamen kejuaraan di Beijing, Maria Sharapova naik ke posisi kedua dalam daftar peringkat dunia. Dengan menjuarai China Open, petenis asal Nyagan ini telah memenangkan 12 dari 14 turnamen paling bergengsi di muka bumi. Pada titik ini, ia hanya kekurangan gelar dari Sony Open Miami dan Rogers Cup Kanada.  

Di final China Open, Maria mengalahkan petenis dunia nomor empat Petra Kvitova untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Sejak kekalahan Sharapova melawan Kvitova di final Wimbledon 2011 dan kegagalan akibat cedera melawan pemain yang sama di perempat final di turnamen Pan Pacific Open 2011 di Tokyo, Kvitova hanya berhasil mengambil dua set dari Sharapova dalam lima pertandingan beruntun.

Kesuskesan yang Dinanti

Kemenangan di ibukota Tiongkok tersebut sangat istimewa bagi Maria. Pemain Rusia ini akhirnya kembali memenangkan turnamen di atas lapangan keras setelah 18 bulan. Sebelumnya, gelar terakhir di lapangan jenis ini yang ia memenangkan adalah pada Maret 2013 lalu di Indian Wells.

"Seluruh dunia tahu bahwa Sharapova adalah ratu lapangan tanah liat. Tak ada yang bisa menyamai Sharapova di permukaan tanah liat. Ia juga mampu menangani pertandingan di lapangan rumput dengan sangat baik, bahkan Serena Williams takut melawan Sharapova di atas lapangan rumput. Namun, Maria tak terlalu andal bertanding di lapangan keras,” tutur Andrei Chesnokov, legenda tenis Rusia dan mantan petenis nomor sembilan dunia.

Menurut Chesnokov, kemenangan Maria di lapangan keras tidak lebih dari 60 persen, dan hal tersebut sulit diterima bagi pemain yang kuat seperti dirinya. “Alasan Maria mengganti pelatihnya sebagian besar karena masalah dengan permukaan lapangan ini. Kini saya lihat telah ada kemajuan dalam cara bermain Sharapova. Ia telah belajar merestrukturisasi gaya dan kekuatan servisnya telah meningkat secara signifikan,” terang Chesnokov.

Mencapai Peringkat Teratas

Setelah kemenangan di China Open, Sharapova telah mengumpulkan 6.680 poin, sementara petenis nomor satu dunia Serena Williams dari AS memiliki 8.645 poin. Menurut Chesnokov, Maria memiliki kesempatan untuk mengejar poin sang petenis Amerika, bahkan berpeluang menjadi petenis nomor satu dunia pada akhir musim.

"Perbedaan antara petenis Rusia dan AS tersebut adalah Sharapova tidak perlu mempertahankan apa-apa hingga akhir musim. Sebaliknya, jika Serena tidak memenangkan turnamen terakhir tahun ini, maka ia akan kehilangan 1.500 poin. Dengan demikian, Williams akan memiliki 7.145 poin. Artinya, perbedaan antara Williams dan Sharapova tak sampai 500 poin. Dalam kasus seperti itu, Sharapova memiliki kesempatan untuk merah tempat pertama pada akhir tahun. Untuk itu, Maria perlu setidaknya masuk semifinal di Singapura. Maria belum berhasil mencapai peringkat teratas dunia sebelumnya, dan itu adalah tantangan besar baginya. Saya tahu ia bermimpi menjadi petenis nomor satu dan itu bisa diraih pada akhir tahun ini,” kata Chesnokov.

Turnamen Wuhan: Bangkit Setelah Jatuh 

Di Tiongkok, Sharapova meraih gelar ke-30 sepanjang karirnya. Selama kompetisi tersebut ia juga meraih kemenangan jubilee ke-555. Tahun 2006 adalah musim terakhir Sharapova mampu memenangkan lebih dari tiga gelar. Namun, rekor itu terpatahkan karena tahun ini ia telah mengumpulkan empat gelar.

"Turnamen di Wuhan berakhir dengan kekecewaan. Saya pikir saya sudah siap untuk itu dan ingin berjuang. Tapi performa saya kurang baik. Saya perlu memperbaiki situasi selama beberapa hari menjelang pertandingan di Beijing. Kadang beberapa rincian perlu perubahan, mungkin hasil tersebut akan membantu saya memenangkan pertandingan. Saya bangga karena hanya dalam beberapa hari saya melakukan tugas besar seperti ini dan berhasil kembali dengan prima di turnamen ini,” kata sang petenis asal Rusia tersebut sebagaimana dikutip oleh situs resmi WTA.

Total hadiah uang dari China Open adalah 5.5 juta dolar. Sharapova menerima 1.9 juta, sementara finalis yang kalah Petra Kvitova menerima 1.2 juta.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.