Gunakan Jasa Fabio Capello, Rusia Ibarat Membeli Kucing dalam Karung

Menteri Olahraga Vitaly Mutko berperan penting dalam mendatangkan Capello ke Rusia telah menjadi pembela utama pelatih asal Italia ini setelah Rusia tersingkir dari Piala Dunia Brasil 2014. Foto: RIA Novosti

Menteri Olahraga Vitaly Mutko berperan penting dalam mendatangkan Capello ke Rusia telah menjadi pembela utama pelatih asal Italia ini setelah Rusia tersingkir dari Piala Dunia Brasil 2014. Foto: RIA Novosti

Penampilan buruk tim sepak bola Rusia pada Piala Dunia 2014 di Brasil membuat perhatian tertuju pada sang pelatih bergaji tinggi, Fabio Capello. Penunjukan Fabio Capello terlihat semakin tak sebanding dengan uang yang dikeluarkan. Banyak yang mempertanyakan tingginya gaji sang pelatih asal Italia ini dan kompensasi luar biasa besar yang akan ia terima jika diputus kontraknya.

Penunjukan Capello awalnya terdengar sebagai ide yang hebat. Tim Rusia akan dibimbing oleh salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola hingga 2018, saat Rusia menyelenggarakan Piala Dunia di kandang sendiri. Kini waktu yang tersisa tinggal empat tahun dan Federasi Sepak Bola Rusia makin tersudut.

Gaji Capello memang terlihat agak tinggi dan ada beberapa klausul mencemaskan dengan nilai besar di kontrak. Namun, siapa yang bisa menolak? Bagaimanapun juga, dengan mengontrak Fabio Capello bisa dibilang kesuksesan sudah di tangan. Sayang kenyataannya berbeda. Tak sampai enam bulan setelah menandatangani perpanjangan kontrak empat tahun bernilai besar, timnas Rusia tersingkir dengan mudah dari Piala Dunia pada babak penyisihan grup. Tekanan kini tertuju pada Capello seiring media dan politisi senior meminta pertanggungjawabannya.

Dengan gaji yang dikabarkan sekitar 11 juta dolar AS per tahun, Capello mendapat gaji lebih tinggi dibanding total gaji pelatih 16 peserta Piala Dunia lain dan 50 kali lebih tinggi dari pelatih Meksiko Miguel Herrera, yang menjadi bintang kejuaraan sejauh ini. Beberapa surat kabar sibuk mendaftar barang-barang yang bisa dibeli Capello dengan pendapatannya selama setahun, mulai dari apartemen penthouse supermewah dan karya seni eksklusif hingga istana bangsawan Italia lengkap dengan perkebunan anggur dan zaitunnya.

Parahnya lagi, kontrak Capello ternyata menyimpan kejutan tersembunyi. Jika Federasi Sepak Bola Rusia memecatnya sekarang, mereka harus membayar kompensasi sebesar sekitar 25 juta dolar AS, itu hanya perkiraan kasar. Salah satu surat kabar terkemuka Rusia mengklaim bahwa nilai sebenarnya dapat mencapai 43,7 juta dolar AS, kurang lebih sama dengan jumlah gaji Capello hingga 2018, tanpa harus bekerja sama sekali.

“Enak sekali dia mendapat uang berlimpah secara cuma-cuma. Tim nasional Rusia kalah dan hal ini tidak mempengaruhi bayarannya sama sekali. Pencuri!" seru pemimpin nasionalis temperamental Vladimir Zhirinovsky. Sebelumnya, Zhirinovsky pernah mengancam akan memerkosa seorang jurnalis yang tengah hamil dan meledakkan bom nuklir di Chechnya, jadi kritiknya pada Capello ini masih terhitung ringan. Tetap saja, dengan tersingkirnya Rusia dari Piala Dunia, kritik terhadap pelatih Italia ini telah menjadi topik perbincangan paling hangat. Menurut sebuah survei, 70 persen responden ingin ia dipecat.

Capello datang pada 2012 dan memulai karirnya dengan baik, mengantarkan Rusia lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002, dengan peringkat di atas Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo (tapi sekarang pencapaian itu jadi terlihat tidak terlalu hebat setelah Portugal gagal total di Brasil). Januari lalu, Capello menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2018.

Bagi timnas Rusia, Piala Dunia 2014 ini bagai bencana dari awal sampai akhir. Capello sejak dulu merupakan pelatih yang fokus bertahan, tapi ia menggunakan strategi tersebut secara berlebihan di Brasil. Rusia dihadapkan dengan partai hidup-mati yang harus dimenangkan dalam pertandingan terakhir penyisihan grup melawan Aljazair. Anehnya, Capello malah memilih susunan tim inti yang defensif, yang wajar saja hanya bisa memperoleh hasil imbang. Capello juga ditugasi membangun tim Rusia untuk Piala Dunia 2018, tapi ia malah menyingkirkan sebagian pemain muda terbaik Rusia. Blunder sang pelatih memang mengejutkan, tetapi penolakannya untuk mengakui kesalahan lebih mengejutkan lagi. Rupanya, semua kegagalan ini adalah kesalahan wasit.

Ironisnya, kontrak besar yang menjadikan Capello sebagai sasaran empuk kritik malah bisa menjadi penyelamatnya. Membayar sejumlah besar uang untuk memecat seseorang yang sebelumnya dibebani harapan begitu tinggi akan berbuah penghinaan publik bagi Federasi Sepak Bola Rusia dan Menteri Olahraga Vitaly Mutko, yang menjadi pembela utama Capello setelah tersingkir dari Piala Dunia. "Pelatih Italia itu tetap salah satu pelatih terbaik di dunia. Kita tidak butuh orang lain,” ujar Mutko yang berperan penting dalam mendatangkan Capello ke Rusia.

Capello ternyata memiliki kontrak yang membuat pemecatannya akan hampir sama menguntungkan baginya dengan kondisi jika ia berhasil meraih kesuksesan. Ia mendapat lebih dari dua kali lipat gaji pelatih lain di Piala Dunia. Bagi para pejabat sepak bola Rusia yang tersihir kebintangan Capello, semua ini wajar-wajar saja, hingga sebelum kekalahan Rusia dalam Piala Dunia.

Sebuah frasa Latin tampaknya pantas dikutip untuk kisah naik-turunnya pelatih Italia ini: Caveat emptor—pembeli harap berhati-hati.

Artikel Terkait

FIFA Tolak Pindahkan Piala Dunia 2018 dari Rusia

Rekor Sepak Bola Rusia dalam Piala Dunia

Menu Pesepak Bola Rusia untuk Piala Dunia ala Koki Italia

Kapten Timnas Rusia Tak Ikut ke Brasil

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.