Capello Bawa Rusia Lolos Piala Dunia

Terakhir kali Rusia bermain di Piala Dunia adalah dahulu di tahun 2002. Sumber: Mikhail Sinitsyn / RG

Terakhir kali Rusia bermain di Piala Dunia adalah dahulu di tahun 2002. Sumber: Mikhail Sinitsyn / RG

Untuk pertama kalinya setelah 12 tahun, Rusia akan bermain di Piala Dunia.

 

Rusia berhasil memuncaki Grup F setelah bermain imbang 1-1 dengan Azerbaijan dalam pertandingan kualifikasi terakhir mereka di Baku, memastikan kelolosan mereka ke babak final Piala Dunia Brasil di bawah asuhan pelatih Fabio Capello.

Ini mungkin tidak tampak seperti sebuah capaian besar bagi negara sebesar Rusia, tetapi kita harus ingat bahwa terakhir kali kita bermain di Piala Dunia adalah dahulu di tahun 2002, di Jepang dan Korea. Hanya satu pemain dari skuat waktu itu yang sekarang masih dipanggil – penyerang Zenit berusia 30 tahun, Alexander Kerzhakov.

Bagi nama-nama terkemuka lain dalam skuat Rusia – Roman Shirokov, Sergey Ignashevich, Igor Akinfeev, dan lain-lain, ini akan menjadi penampilan pertama dan mungkin terakhir di panggung sepakbola terbesar tersebut dalam karir mereka.

Akan menjadi sebuah tragedi bagi generasi tersukses Rusia yang memenangi medali perunggu EURO 2008 ini jika kesempatan ini terlewatkan. Apalagi tim sekarang ditangani oleh salah satu manajer paling berprestasi di dunia, pelatih 67 tahun asal Italia Fabio Capello. Dalam satu tahun saja, pria asli Pieris ini telah mengubah pandangan orang-orang Rusia tentang konsep pelatih asing.

Tidak seperti dua pelatih sebelumnya yang asal Belanda, Capello menghabiskan sebagian besar waktu dalam setahun terakhir di Rusia, menghadiri tiga atau empat pertandingan di setiap pekan Liga Primer Rusia. Don Fabio pernah terlihat berada di Saransk, Samara, Perm, dan berbagai daerah pelosok lain negara ini. Di bawah Capello, sudah sepuluh pemain baru melakukan debut di tim nasional, enam di antaranya pemain belakang yang sebelumnya hanya dikenal oleh penyeleksi tim nasional saja.

Tidak ada yang dapat memengaruhi Capello. Kapten Igor Denisov kehilangan tempatnya di tim pada akhir babak kualifikasi, dengan Denis Glushakov dari Spartak sebagai pengganti yang dipilih. Pencetak gol terbanyak Liga Primer Rusia, Artem Dzyuba dari Rostov, juga tidak dipanggil, sedangkan penyerang Dinamo, Fedor Smolov, yang belum mencetak gol di pertandingan resmi selama lebih dari dua tahun, malah menjadi pemain reguler di kamp latihan pelatih asal Italia itu.

Sejak dini di awal babak kualifikasi, Capello melatih para pemain untuk bertahan secara tim, untuk bermain kompak sementara setiap pemain menjalankan fungsi spesifiknya masing-masing. Tim pun perlahan terbentuk menjadi satu kesatuan. Mereka dapat mempertahankan bola dan menjaga prinsip-prinsip kerapatan yang diterapkan di awal kinerja Fabio tersebut.

Kemudian pelan-pelan tim mulai menunjukkan kelasnya. Kenyataan bahwa tim ini masih dalam proses berkembang jelas terlihat dari gol-gol yang masuk ke gawang mereka di akhir babak pertama melawan Irlandia Utara dan di babak kedua melawan Luksemburg, Israel, dan Azerbaijan. Fabio Capello sendiri mengakui bahwa kemasukan gol di akhir babak adalah tanda masih kurangnya kelas. Tim sekarang tengah dicekoki pemahaman bahwa setiap permainan harus dimulai dan diakhiri dengan sama baik, entah itu sebuah turnamen, sebuah pertandingan, atau bahkan satu babak 45 menit.

Setelah kegagalan Euro 2012 yang memalukan, tim nasional kini menemukan seorang pemimpin sejati, seseorang yang mampu membawa kesebelasan ini maju, mengatur dan menentukan ritme dan tempo sebuah pertandingan; kapan harus menyerang dan kapan harus berhenti dan bermain di posisi-posisi tertentu. Orang tersebut adalah gelandang Zenit, Roman Shirokov, kapten baru tim yang sosoknya agak kontradiktif.  Ia tidak memiliki hubungan baik dengan penggemar. Ia selalu berkonflik dengan para pengamat sepakbola dan selalu aktif secara sosial. Bagi Rusia, Shirokov lebih dari sekadar pemain sepakbola. Ia memiliki 200.000 lebih pengikut Twitter, wajahnya menghiasi sampul-sampul majalah glossy, dan bahkan wawancara dengan kapten tim nasional ini sering muncul dalam kolom politik.

Assist Shirokov di pertandingan kandang melawan Portugal memaksa kita untuk percaya bahwa Rusia akan cukup mampu mengatasi semifinalis Piala Dunia terakhir itu di babak final nanti, sedangkan golnya melawan Azerbaijan memperbesar keunggulan Rusia atas rival-rivalnya.

Pemain Terbaik Uni Soviet tahun 1972, Evgeny Lovchev, berpendapat bahwa meski berhasil lolos dari kualifikasi, tim sebenarnya belum cukup bagus. Tetapi ia menyanjung peran yang dimainkan oleh Shirokov.

“Secara keseluruhan anak-anak asuh Capello tidak seimpresif itu. Kecuali kemenangan telak 4-0 atas Israel, saya tidak ingat lagi pertandingan yang mengesankan dari kualifikasi ini. Kemenangan menjemukan atas Portugal itu jelas terlalu banyak diulas. Banyak pemain masih bermain di bawah potensi mereka dan mungkin akan tidak banyak berperan ketika sampai di tahap-tahap akhir di Piala Dunia. Satu-satunya pemain yang pantas dipuji adalah Roman Shirokov. Permainannya cerdas: ketika ia mengoper, selalu arahnya ke pemain atau untuk serangan yang tepat, tidak hanya asal menggulirkan bola. Roman pilihan yang tepat untuk mengenakan ban kapten; melalui Roman-lah gagasan tim dari pelatih mewujud di lapangan.”

Dibantu ketajaman visi Shirokov, sebuah generasi baru pun muncul di tim nasional, termasuk Oleg Shatov, gelandang berusia 23 tahun, dan Vladimir Granat, 26 tahun.  Pemain-pemain ini adalah masa depan sepakbola Rusia dan mereka telah menjadi pemain kunci dalam babak kualifikasi ini.

Tentu saja tim juga menemui ganjalan. Di antaranya adalah kekalahan yang pantas forfeits di Lisbon dan permainan buruk di Belfast. Tetapi tim juga memerlukan pertandingan seperti itu agar dapat menyatu, memahami tanggung jawab yang diberikan kepada mereka, dan belajar menerima kekalahan.

Untuk saat ini Capello menjalankan perannya dengan sangat baik, sehingga Menteri Olahraga Vitaly Mutko menyiratkan akan memperpanjang kontrak Fabio hingga 2018, ketika Piala Dunia diadakan di Rusia. Sepertinya sekaranglah waktu terbaik untuk melakukan ini, meskipun lolos ke Piala Dunia dan bermain baik di Piala Dunia adalah dua hal yang berbeda.

Capello sangat memahami ini dan hampir tidak mungkin bersedia mengemban kewajiban yang berjangka panjang seperti itu. Tidak mudah untuk dapat diterima di Rusia seperti warga asli kita sendiri. Hambatan bahasa, musim dingin yang panjang, dan segala intrik dalam dunia sepakbola Rusia mungkin akan menjadikan Capello sekadar penawar yang sifatnya sementara saja, yang hadir untuk mendatangkan banyak uang ke Rusia.

Pelatih kepala juara Rusia, CSKA Moskow, Leonid Slutsky, meyakini bahwa Capello sangat pantas menjadi pelatih tim nasional.

“Capello adalah manajer top. Ia telah menunjukkan kelasnya di mana pun ia bekerja. Dan ia sekarang menunjukkan hasil yang sangat baik bersama tim nasional Rusia. Haruskah kontrak Capello diperpanjang hingga 2018? Saya tidak tahu detail kontraknya, tetapi jika kita ingin tim nasional kita ditangani oleh salah satu manajer terbaik dunia, Capello jelas pilihan terbaik bagi kita. Saya pikir kita tidak akan dapat menemukan kandidat yang lebih kuat lagi.”

Saat ini Capello memiliki enam bulan untuk memperbaiki kekurangan tim dan membawa mereka maju ke langkah berikutnya: lolos dari grup dan memasuki babak enam belas besar di Piala Dunia, sesuatu yang belum pernah dilakukan lagi sejak 1986. Jika Capello tidak berhasil sampai di sana, capaian apa pun akan dianggap kegagalan baik oleh Persatuan Sepakbola Rusia maupun penggemar.

Artikel Terkait

FIFA Tolak Pindahkan Piala Dunia 2018 dari Rusia

Rekor Sepak Bola Rusia dalam Piala Dunia

Menu Pesepak Bola Rusia untuk Piala Dunia ala Koki Italia

Kapten Timnas Rusia Tak Ikut ke Brasil

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.