Bentrokan Budaya di Ring Tinju

Wladimir Klitschko (kiri) dan Alexander Povetkin (kanan). Sumber: AFP/East News

Wladimir Klitschko (kiri) dan Alexander Povetkin (kanan). Sumber: AFP/East News

Pertandingan Klitschko-Povetkin bukan sekadar duel antarpetinju kelas berat – melainkan juga pertarungan kelas sosial.

 

“Tak perlu dengarkan wasit - hajar dia!”

 

Dengan kata-kata itu, seorang bintang lahir.

 

Ketika Wladimir Klitschko menghajar Alexander Povetkin untuk mempertahankan gelar kelas beratnya awal bulan ini, hasilnya bukanlah kejutan dan pertandingannya sendiri pun agak membosankan. Tetapi teriakan-teriakan yang terdengar dari pinggir ring betul-betul berkelas.

 

Saat Klitschko yang berasal dari Ukraina memanfaatkan keunggulan jangkauannya untuk menjaga jarak dengan penantangnya yang dari Rusia itu di ronde-ronde awal, seorang laki-laki tidak dikenal yang duduk di dekat salah satu mikrofon sisi ring tidak bisa diam.

 

“Tenang, Sanya, tenang,” teriaknya dengan menyebut nama panggilan Povetkin. Ia sendiri sama sekali tidak tampak tenang. Dan ia pun meninggikan suaranya setiap kali jab Povetkin mengenai sasaran: “Lagi, lagi!” - semuanya jelas terdengar oleh jutaan orang yang menonton siaran pertandingan itu.

 

Karena tidak tahan dengan kebiasaan Klitschko merangkul jagoannya saat jarak mereka terlalu dekat, si pendukung Povetkin memekik: “Pengecut! Ayo, pukul pengecut itu!”

 

Tetapi sang juara dari Ukraina berhasil meninju Povetkin dengan hook kiri yang sangat kuat di akhir babak kedua - tidak cukup untuk membuat KO, tetapi cukup untuk menganvaskan petinju Rusia itu, memberikan Klitschko keunggulan yang telak dalam pertandingan.

 

Tiga kali lagi sang penantang dijatuhkan di ronde-ronde setelahnya, dan keyakinan sang penggemar yang terlalu bersemangat itu terhadap jagoannya mulai luntur. Ia tetap bersuara nyaring, tetapi banyak tenaganya terbuang untuk meminta Povetkin menghimpun kekuatan agar dapat memberikan pukulan KO.

Ke-muzhik-an adalah konsep yang aneh - padanan terbaiknya dalam bahasa Inggris adalah Joe, kata ganti yang berarti seorang laki-laki biasa. Namun istilah ini mengandung beberapa aspek lain. Dari kata yang awalnya merujuk kepada pemuda petani di masa perbudakan Rusia, muzhik telah menjadi cara hidup - anti-intelektual, perokok berat, orang yang lebih senang minum bir di halaman rumah daripada anggur mahal di restoran dan ingin dunia mengetahuinya.

 

Dengan berbunyinya bel pada ronde ke-12, Povetkin yang sebelumnya tidak terkalahkan akhirnya kalah angka mutlak dan suporternya yang satu ini menjadi terkenal di internet.

Povetkin menjadi pahlawan kaum muzhik karena ia salah satu dari mereka, seorang nasionalis keras yang memasuki ring hari Sabtu lalu diiringi lagu rakyat kitsch gaya abad pertengahan yang memuja-puja sebuah zaman emas semi-fiksional Rusia.

 

Sementara itu status orang yang baru saja mengalahkannya sungguh bertolak belakang. Klitschko bersaudara adalah keluarga yang unik dalam sejarah tinju, para juara tinju beradab yang fasih berbicara dalam setidaknya empat bahasa. Kakaknya Vitali menyandang sabuk kelas berat WBC dan satu gelar Ph.D.

 

Povetkin dicitrakan sebagai simbol penolakan terhadap semua itu. Ia jarang berbicara di depan publik, apalagi dalam bahasa asing, dan lebih memilih untuk menyampaikan pesan-pesan nasionalis yang lantang melalui kausnya.

 

Karir Wladimir Klitschko dan Alexander Povetkin sama-sama berawal dari masa Uni Soviet tahun 1980-an, tetapi apa yang terjadi dalam pertarungan mereka menunjukkan betapa mereka telah bersimpangan jalan.

 

Bel akhir telah berbunyi bagi Klitschko-Povetkin, tetapi perang budaya pasca-Soviet masih terus berlangsung.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.