Tragedi Pesawat Rusia di Langit Mesir: Apakah Rusia dan Barat Kini Sepaham?

AFP / East News
Percakapan telepon minggu ini antara PM Inggris David Cameron dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait kecelakaan pesawat Rusia di Mesir menciptakan prospek kerja sama bagi Moskow dan Barat untuk memerangi terorisme internasional.

Dengan berkembangnya kecurigaan bahwa kecelakaan pesawat Metrojet Rusia di Semenanjung Sinai, Mesir, pada Sabtu (31/10) lalu berhubungan dengan teroris ISIS, percakapan telepon minggu ini antara PM Inggris David Cameron dan Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin telah mendobrak jalan buntu dalam hubungan bilateral antara London dan Moskow dan mengubahnya menjadi upaya bersama untuk mengungkap kebenaran, sekalipun tak ada komitmen formal untuk bekerja sama yang disampaikan secara terbuka.

Intelijen Inggris tampaknya memiliki bukti kuat bahwa sebuah bom ditanam di pesawat Rusia oleh antek ISIS di Semenanjung Sinai. Rencana tersebut diduga disusun oleh Abu Osama al-Masri, seorang pemimpin muslim Mesir yang telah bersumpah setia pada Kafilah Islam. Selain itu, media Inggris, mengutip pejabat Whitehall, melaporkan bahwa kabinet Cameron akan membantu Mesir atau Rusia dalam misi 'bunuh atau tangkap', dan bahwa pasukan udara khusus dapat dikirim ke Mesir untuk tujuan tersebut.

Pemerintah Rusia juga telah meminta pendampingan FBI untuk melakukan investigasi, dan Badan Federal AS telah setuju untuk memberikan bantuan profesional.

Semua upaya yang pernah dilakukan oleh Rusia untuk membentu front persatuan kekuatan global melawan teroris di Timur Tengah gagal. Koalisi tunggal melawan ISIS tak tercipta. Namun, sinyal positif muncul setelah tragedi di Sinai, membuka jalan untuk beberapa kerja sama antara Rusia dan Barat, terutama untuk menginvestigasi kecelakaan tersebut, dan kedua untuk bekerja sama dalam isu keamanan. Apakah ini menjadi suatu titik balik?

Vladimir Sotnikov, Direktur Pusat Studi Strategis Timur-Barat, lembaga analisis independen yang berbasis di Moskow, menyuarakan komentar optimisnya pada Troika Report.

“Tragedi ini menunjukkan bahwa ketika terdapat kegagalan dalam menyediakan keamanan, dan dalam kasus ini sepertinya terdapat kegagalan dalam memberi keamanan bagi warga negara asing yang berlibur di Mesir, ancaman terorisme akan meningkat. Hal ini berdampak terhadap kepentingan ribuan orang. Tak hanya warga Rusia. Langkah yang diambil oleh beberapa pemerintah asing terkait kecelakaan ini menunjukan mereka melakukan pendekatan ini.”

“Selain itu, peristiwa tragis ini menunjukkan bahwa kita hanya punya satu musuh bersama. Dan ia harus dihadapi terlepas dari masalah pelik lain, misalnya, perbedaan yang kita miliki dengan pemerintah AS dan Inggris terkait krisis Ukraina.”

“Meski baru-baru ini meruak pernyataan keras yang menobatkan Rusia sebagai ancaman keamanan utama bagi Barat, ada sepercik harapan bahwa kerja sama antara Rusia dan Barat dapat terwujud.”

Sotnikov menegaskan bahwa percakapan telepon antara Cameron dan Putin penuh makna simbolis karena Moskow dan London kerap berselisih terkait konflik regional utama dan isu keamanan.

“Jalan untuk menyatukan respon global terhadap tantangan global mungkin bergelombang. Minggu ini, New York Times sepertinya mencetak ulang sudut pandang stereotipe yang muncul saat puncak Perang Dingin, yang menyebut terdapat 'kepercayaan mendalam di kalangan masyarakat Rusia, yang ditanamkan oleh mesin propaganda Putin, bahwa pemerintah Barat berkonspirasi menentang kepentingan negara mereka.”

Asumsi ini tak seirama dengan pernyataan Moskow yang menegaskan bahwa Rusia tak akan menutup diri ataupun berdiam diri, apalagi mengisolasi diri. Keterlibatan diplomatik terbaru yang ditampilkan Rusia menunjukkan keseriusan Rusia akan hal tersebut. Barat secara umum, dan AS serta Inggris khususnya, dilihat sebagai mitra untuk mencapai tujuan bersama.

Penanda interaksi pertama antara Rusia dan Barat untuk menyelesaikan kekacauan global berbarengan dengan kemunculan pernyataan simbolis pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri: “Amerika, Rusia, Iran, Alawi, Hisbulah, semua bekerja sama melawan kita,dan jika kita tak bisa menghentikan pertempuran antara diri kita sendiri, bagaimana kita bisa mengarahkan upaya bersama untuk melawan mereka?”

Eropa mungkin secara mencolok hilang dari daftar hitam mereka, namun hampir tak mungkin mereka diabaikan, karena terdapat persepsi yang tertanam berabad-abad di benak para muslim fundamental bahwa Eropa adalah tentara salib dari Barat. Ajakan untuk menciptakan 'persatuan teroris' ini tak boleh dianggap enteng.

Jika Barat dan Rusia gagal menyadari mereka ada di kapal yang sama, menjadi target musuh yang dikuasai oleh kebencian sedalam lautan, dan jika mereka gagal mengakui bahwa konflik internal yang melemahkan mereka dalam menghadapi kesulitan maka kesempatan untuk memenangkan perang ataupun pertempuran melawan terorisme global sangatlah tipis.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.