Tragedi Pesawat A321: Spekulasi Serangan Teroris Semakin Kuat

Tentara Mesir menjaga puing-puing Airbus Rusia di lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Hassana, kota Arish, Mesir (1/11).

Tentara Mesir menjaga puing-puing Airbus Rusia di lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Hassana, kota Arish, Mesir (1/11).

Reuters
Pada Senin (9/11), Pemerintah Mesir menyatakan bahwa mereka membunuh salah satu pemimpin kelompok teroris lokal Ansar Beit al-Maqdis yang berasosiasi dengan ISIS. Barat mendukung teori bahwa antek kelompok teroris tersebut yang berada di balik kecelakaan pesawat Rusia di Sinai, Sabtu (31/10). Para pakar yakin bahwa jika kecelakaan ini memang aksi teroris, maka pelaku mencoba untuk menyerang tak hanya Rusia, tapi juga Mesir.

Pemerintah Mesir membuat terobosan dalam memerangi kelompok Islam radikal Ansar Beit al-Maqdis di Semenanjung Sinai, yang telah bersumpah setia pada ISIS.

Pada Senin (9/11), Kairo menyatakan telah membunuh salah satu komandan kelompok tersebut, Ashraf Ali Ali Hassanein al-Gharabli. Menurut pejabat keamanan Mesir, ia terlibat dalam merancang serangan teroris, termasuk terhadap warga sipil dan turis asing.

Tewasnya salah satu teroris paling dicari di negara tersebut berbarengan dengan investigasi kecelakaan pesawat Rusia di Sinai. Secara khusus, The Times mengutip sumber anonim dari pihak pemerintah yang tak hanya mengonfirmasi serangan teroris, tapi juga menunjuk pelakunya.

Menurut sang narasumber, aksi tersebut dirancang oleh kelompok teroris Ansar Beit al-Maqdis yang telah mendeklarasikan diri sebagai cabang ISIS di Sinai, yaitu Wilayat Sinai.

“Secara keseluruhan terdapat dua lusin eksklave ISIS di dunia saat ini, dan Wilayat Sinai adalah salah satunya,” terang Alexander Ignatenko, Direktur Institut Agama dan Politik.

“Eksklave semacam ini cenderung mengambil keputusan sendiri terkait langkah yang mereka lakukan, namun menjalankannya demi kepentingan 'organisasi pusat'.”

Namun, sang pakar juga beranggapan bahwa kesimpulan mengenai keterlibatan langsung Wilayat Sinai dalam persiapan serangan teroris pada pesawat Rusia masih prematur.

“Situasi pertempuran melawan teroris di Sinai tak terlalu jelas; apa yang terjadi dapat dipahami oleh tak hanya kelompok ini, tapi juga agen mereka yang secara langsung atau tak langsung bekerja sama dengan Wilyat,” tuturnya.

Di antara “agen-agen” ini, Ignatenko menyebut oposisi kunci Presiden Mesir Abdel-Fattah alh-Sisi, Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim), yang digulingkan dari kekuasaan dalam kudeta pada 2013.

Setelah demonstrasi berdarah di Lapangan Rabia, Kairo, pengikut Ikhwanul Muslimin mulai melakukan aksi bawah tanah dan melanjutkan perlawanan menentang rezim sekuler Sisi.

Di saat yang sama, Rusia telah menciptakan kerja sama dengan pemimpin Mesir, dan sebelumnya Moskow telah menempatkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris yang dilarang di Rusia, bersama dengan ISIS.

Konsekuensinya, jika penyebab kecelakaan pesawat Rusia memang aksi teroris, target organisasi tersebut mungkin bukan hanya Rusia, tapi juga pemerintah Mesir.

Ignatenko juga menduga, mungkin saja teori ‘teroris’ dalam kecelakaan pesawat di Sinai berhubungan dengan rencana Mesir, yang merupakan wilayah kunci Sunni di area tersebut, untuk bergabung dengan upaya internasional memerangi ISIS.

Selain itu, Moskow juga mendesak melibatkan Kairo dalam proses ini. “Demi kesuksesan inisiatif penyelesaian konflik Suriah yang disokong oleh Moskow, keterlibatan Mesir tentu penting,” terang sang pakar menyimpulkan.

Pakar dari Moscow Carnegie Center Alexei Malashenko menyatakan bahwa tragedi di atas langit Sinai menggoyah posisi Sisi, membuat Mesir kehilangan pendapatan miliaran dolar AS dari keuntungan turisme.

Namun, ia ragu serangan tersebut dilakukan oleh militan Ansar Beit al-Maqdis atau pendukung Persaudaraan Muslim,

“Tentu logis membayangkan bahwa para Islam radikal yang bertempur di Suriah hendak melukai Rusia. Mereka punya alasan untuk membalas dendam pada Moskow,” tambahnya.

Pertama kali dipublikasikan di Kommersant

 
 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.